Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Anies Ingin Pasar Seni jadi Rujukan Kesenian

Ahad 08 Sep 2019 20:06 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Andi Nur Aminah

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Foto: Thoudy Badai
Kota Tua sudah dibuka kembali untuk pagelaran wayang.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pagelaran wayang kulit menghibur pengunjung Pasar Seni Ancol pada Sabtu (7/9) malam. Dalang cilik Barata Wicaksana menjadi pembuka gelaran bertajuk "Pandawa Kumpul" di Panggung Utama Pasar seni pukul 20.00 WIB.

Baca Juga

Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan hadir bersama pengunjung menyaksikan seni budaya tersebut. Anies mengapresiasi langkah Manajemen Taman Impian Jaya Ancol, PEPADI, dan para pendukung lainnya yang terus mengembangkan seni budaya asli Indonesia, salah satunya wayang kulit.

"Malam ini menjadi babak baru. Saya berharap agar Kota Jakarta menjadi tempat di mana kemajuan tidak tercerabut dari akar budaya, di mana peradaban memiliki akar yang kuat dalam tradisi Indonesia, dan itu artinya memberikan ruang kepada tradisi untuk dilestarikan dan dikembangkan," kata Anies, Sabtu (7/9).

Dalam keterangan tertulisnya, sejak tahun lalu, Kota Tua sudah dibuka kembali untuk pagelaran wayang. Pun rencananya pada 14 September 2019 mendatang, ada penyelenggaraan wayang kulit dengan dalang Ki Manteb Sudarsono di Balaikota dan 9 November 2019 di Pasar Seni Ancol.

Anies berharap Ancol rutin membuat acara pegelaran seni budaya, tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali dalam setahun. Dia juga berharap Ancol menjadikan Pasar Seni sebagai tempat rujukan kesenian yang tumbuh dan berkembang.

Anies optimistis menjadikan Jakarta menjadi rumah dalam berkegiatan seni, apalagi seni pewayangan. Menurut dia, paling unik di Indonesia bukan hanya keberagamannya, tetapi juga persatuannya.

"Indonesia itu beragam dan bersatu, untuk bersatu harus memiliki kemampuan untuk memahami, menghormati, dan hal tersebut merupakan turunan dari mengerti karakter dan tenggang rasa," ujar Anies.

Pagelaran wayang menjadi salah satu cara mengerti karakter antar individu dan kelompok. Pesan-pesan kemanusiaan, dakwah, dan sosial disalurkan dengan cara yang sangat halus, masuk ke dalam pikiran dan batin. Menurut Anies, hal itu sangat dibutuhkan di Jakarta yang merupakan kota yang menjadi simpulnya persatuan Indonesia. Karena itu, Anies berharap Ancol, Balaikota, dan tempat lainnya rutin menyelenggarakan pagelaran semacam itu, yang dapat mendorong persatuan bagi masyarakat.

Direktur Utama Taman Impian Jaya Ancol Teuku Sahir Syahali memberikan sambutan dalam bahasa Jawa halus. Dia mengatakan konten seni dan budaya di Pasar Seni akan terus ditambah jumlahnya. Dengan itu, dapat menjadi tempat referensi kesenian tradisional Indonesia.

"Pagelaran wayang kulit ini merupakan salah satu wujud kepedulian Ancol dalam rangka turut mengembangkan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa," kata Syahali.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kondang Sutrisno memberikan apresiasi dan mendukung Pasar Seni sebagai wadah pengembangan budaya Indonesia, khususnya wayang kulit. Dalam lakon Pandawa Kumpul yang didalangi Ki Sri Kuncoro, mengisahkan tentang para Kurawa merekayasa untuk menguasai negara Astina, Pandawa Lima yang sedang dikucilkan oleh para Kurawa, dan beranggapan Pandawa tidak bisa kembali lagi selama bertahun-tahun.

Suatu ketika, negara Wiratha sedang dalam keadaan gonjang ganjing. Rajanya yang bernama Matswopati mencari seorang kesatria untuk membantu meredam kericuhan negara Wiratha. Akhirnya, Seto, anak Raja Matswapati menemukan Bima yang menyamar sebagai seorang tukang jagal, bernama Jagal Abilawa di desa salah satu bawah negara Wiratha. Akhirnya, para Pandawa yang menyamar menjadi rakyat jelata yang berbudi pekerti baik, membantu negara Wiratha yang sedang gonjang-ganjing keluar dari permasalahannya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA