Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Kemarau, Warga Cisarua Sempat Kesulitan Mandikan Jenazah

Selasa 10 Sep 2019 23:47 WIB

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Musim kemarau (ilustrasi).

Musim kemarau (ilustrasi).

Foto: Antara/Arief Priyono
Warga akhirnya terpaksa mencari air menggunakan galon untuk mandikan jenazah

REPUBLIKA.CO.ID, CISARUA -- Musim kemarau panjang di wilayah Kabupaten Bandung Barat menyebabkan masyarakat sulit memperoleh air bersih. Bahkan, di Kampung Sindangsari, RT 04 RW 08, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, sempat muncul kejadian warga sempat kesulitan memperoleh air untuk memandikan jenazah.

Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, warga berinisiatif meminta air yang dikelola  swadaya oleh masyarakat setempat. Dengan jarak kurang lebih 10 meter, warga mengambil air menggunakan galon sebanyak 5 galon untuk digunakan memandikan jenazah.

Ketua RW 08, Asep Suhendar (35) mengungkapkan saat warganya Wa Tini (61) meninggal, kondisi di Kampung Sindangsari sedang kesulitan air yang bersumber dari PDAM sejak tiga hari terakhir. Akibatnya, saat warganya meninggal air untuk memandikan relatif sulit diperoleh.

"Udah tiga hari gak ada air, kebetulan pas ada yang meninggal. Mau memandikan bingung (gak ada air), akhirnya pakai galon ngambil air dari (yang kelola) swadaya," ujarnya saat ditemui di Cisarua, Selasa (10/9).

Ia mengungkapkan, warga yang meninggal tinggal di RT 04 dan menggunakan air PDAM. Sementara itu, warga yang mengelola air secara swadaya berada di RT 02. Katanya, usai kejadian tersebut pihaknya langsung berkoordinasi dengan PDAM.

"Ya kita gak menyalahkan PDAM juga karena musim kemarau. Paling kita minta dikirim air menggunakan tangki," katanya. Menurutnya, sudah beberapa kali pihaknya  mendapatkan distribusi air.

Dirinya menyebutkan jika di RW yang dipimpinnya terdapat 400 kepala keluarga. Kemudian para warga yang masih melakukan penanaman kurang lebih 30 persen dari air yang dikelola secara swadaya.

"Sekarang yang pertanian cuma 30 persen menggunakan air yang dikelola swadaya. Kalau yang gak punya mah nggak tani," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA