Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Sopir Taksi Online Pekanbaru 'Menjerit' Orderan Sepi

Senin 16 Sep 2019 13:52 WIB

Rep: Febrian Fachri / Red: Friska Yolanda

Seorang guru mengenakan masker melintasi halaman SD Santa Maria yang kosong karena sekolah diliburkan di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (11/9/2019).

Seorang guru mengenakan masker melintasi halaman SD Santa Maria yang kosong karena sekolah diliburkan di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (11/9/2019).

Foto: Antara/FB Anggoro
Penumpang hanya keluar untuk kebutuhan mendesak.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Bencana kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru. Kondisi cukup parah terjadi selama hampir 10 hari belakangan. Sekolah-sekolah dan kampus meliburkan pelajar demi memperkecil jumlah jatuhnya korban gangguan pernafasan.

Kondisi ini juga mempengaruhi penghasilan sopir taksi online. Sopir taksi online mengeluhkan sulitnya mereka memenuhi kuota untuk tambahan bonus. Bahkan untuk mendapatkan uang beli bensin saja, para pengemudi kesulitan.

"Cari tiga atau empat penumpang saja sudah susah," kata Deni salah seorang mitra taksi online di Pekanbaru kepada Republika.co.id, Senin (16/9).

Deni merasakan aktivitas di Kota Pekanbaru mengalami penurunan sejak kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau ini berbahaya buat kesehatan. Sehingga masyarakat mengurangi aktivitas keluar rumah.

Ibu-ibu yang belanja ke pasar yang biasanya kerap menjadi konsumen Deni mulai jarang keluar. Ia merasa kalangan ibu-ibu keluar rumah hanya untuk urusan mendesak saja.

Dotrin, yang juga berprofesi sebagai sopir taksi online juga mengeluhkan hal yang sama. Pria keturunan Sumatera Utara ini mengaku sulit mendapatkan penghasilan. Pesanan yang ia dapatkan beberapa hari terakhir bahkan hanya cukup untuk beli bahan bakar.

"Ya mau gimana, kondisi Pekanbaru yang memang mengharuskan masyarakat mengurangi aktivitas keluar rumah," ujar Dotrin.

Deni dan Dotrin kompak menyalahkan stakeholkder dari tingkat provinsi sampai tingkat pusat dalam penanganan bencana kabut asap ini. Deni menilai, pemerintah lalai dalam melakukan pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan bencana kabut asap.

Harusnya menurut Deni pemerintah sudah bisa meminimalisasi bencana asap ini karena sudah menjadi bencana tahunan. Ketika titik api masih belum muncul, pemerintah sudah bisa mengantisipasi mengenai apa yang akan terjadi pada musim kemarau. Sehingga saat musim kemarau seperti sekarang, kabut asap tidak parah dan meresahkan masyarakat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA