Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Perahu-Perahu Kiara Mulai Melaut di Selat Sunda

Senin 16 Sep 2019 14:03 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Agus Yulianto

Perahu-perahu nelayan bantuan Kiara mulai melaut lagi setelah delapan bulan lebih nelayan tidak melaut.

Perahu-perahu nelayan bantuan Kiara mulai melaut lagi setelah delapan bulan lebih nelayan tidak melaut.

Foto: Foto-foto: Mursalin Yasland/Republika
Kiara turut berkontribusi terhadap korban terdapak bencana tsunami dengan 88 perahu.

REPUBLIKA.CO.ID, Tak terasa hampir sembilan bulan berlalu, nelayan Pulau Sebesi dan Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung tidak melaut. Gelombang tsunami akhir tahun lalu membuat nelayan pesisir selatan Lampung tersebut kehilangan sarana mata pencariannya di laut.

Janji-janji manis pemerintah pusat tak kunjung tiba. Nasib nelayan pesisir selatan kian merana, ekonomi rumah tangga kalang kabut. Hamparan laut di depan rumah warga hanya menjadi onggokan air yang tak bisa lagi dikarungi nelayan. Kapal dan perahu juga mesin nelayan sudah hilang dan rusak. Siapa lagi yang dapat membantu mereka.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) turut berkontribusi terhadap korban terdapak bencana tsunami. Setelah melakukan pendataan secara akurat, Kiara membantu sebanyak 88 perahu buat nelayan pesisir Lampung Selatan, korban tsunami Selat Sunda.

photo

Perahu-perahu yang menjadi andalan kehidupan masyarakat Pulau Sebesi.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kiara Susan Herawati menyatakan, masih banyak nelayan pesisir Lampung Selatan belum mendapat bantuan. Namun, ujar dia, Kiara hadir memberikan bantuan sebanyak 88 perahu setidaknya untuk membangkitkan lagi semangat melaut nelayan pesisir yang telah lama tidak melaut.

Dia mengatakan, bantuan kapal perahu kepada nelayan di Desa Kunjir dan Pulau Sebesi adalah nelayan yang benar-benar terdampak tsunami yang terjadi akhir tahun lalu. Relawan Kiara melakukan pendataan di lokasi terdampak bencana pascatsunami untuk mengetahui kebutuhan prioritas bagi nelayan, perempuan dan anak-anak.

“Kami memang ketat dalam pendataan terhadap nelayan korban terdampak tsunami. Kami baru bisa membantu delapan puluh delapan perahu yang memang kondisinya sangat dan perlu dibantu,” kata Susan Herawati yang turut bermalam di Pulau Sebesi, sesaat sebelum menyerahkan bantuan pada Sedekah Laut di Desa Kunjir, Rajabasa, Lampung Selatan, (12/9).

Menurut dia, kehadiran Kiara di lokasi bencana di seluruh Indonesia, untuk mengambil bagian memberikan bantuan kebutuhan prioritas korban terdampak bencana. Nelayan di pesisir selatan Lampung yang memang terdampak parah bencana tsunami. “Bantuan perahu ini setidaknya dapat memulihkan ekonomi nelayan lagi,” kata Susan.

Perahu-perahu Kiara tersebut mulai melaut. Ekonomi nelayan mulai bergolak lagi di Pulau Sebesi, setelah berbulan-bulan vakum tidak dapat melaut. Dari pemantauan Republika, sebanyak 10 nelayan sudah aktif melaut dengan perahu Kiara. Hasil ikannya dijual kepada Yusuf, penampung sementara.

Menurut Yusuf (57 tahun), warga Dusun III Regan Lada, Desa Tejang Pulau Sebesi, sejak diterima bantuan perahu, nelayan sudah ada yang melaut. Selama ini, ujar dia, nelayan tidak memiliki perahu lagi, ada yang hilang, rusak, ada yang mesinnya tidak bisa dipakai lagi terendam air laut ketika tsunami.

“Sudah 10 nelayan melaut sejak empat hari terakhir, dan hasil tangkapannya lumayan dua hari ini 40 kilogram kira-kira Rp 1,5 juta didapat,” tutur Yusuf kepada Republika di Pulau Sebesi, Kamis (12/9).

Nelayan-nelayan yang melaut pada pagi hingga petang, dan juga malam hari ditampung di depan rumahnya. Nelayan merasakan manfaat dari perahu-perahu bantuan Kiara. “Kalau mau beli atau buat, dari mana duitnya nelayan, untuk makan saja susah setelah tsunami,” ujar Yusuf yang juga rumah dan perahunya rusak saat tsunami Selat Sunda.

Perahu-perahu bantuan Kiara tersebar di Pulau Sebesi sebanyak 34 perahu, dan sisanya 54 perahu di Desa Kunjir. “Sejak adanya bantuan perahu dari Kiara, 10 nelayan sudah mulai melaut lagi,” kata Sholeh (67 tahun), nelayan di Pulau Sebesi seusai menerima bantuan kapal, Kamis (12/9).

Menurut dia, sejak kejadian bencana tsunami nyaris semua nelayan tidak melaut lagi. Kapal dan perahu nelayan rusak dan hilang. Nelayan tidak mampu membuat dan membeli kapal dan perahu lagi, karena lebih mementingkan mengurusi kebutuhan rumah tangga setelah ditimpa bencana.

Dia mengatakan, bantuan perahu terdiri dari perahu katingting dan perahu mancung. Selain itu, nelayan juga menerima bantuan mesin perahu bagi nelayan yang hanya mengalami kerusakan mesin perahu setelah diterjang gelombang tsunami.

Kiara mengajak pemerintah daerah setempat untuk hadir di tengah nelayan korban terdampak tsunami. “Negara harus hadir. Masih banyak nelayan yang menatap perahu-perahunya yang rusak tidak bisa berbuat banyak,” kata Susan.

Dia mengatakan, kearifan lokal masyarakat wilayah pesisir Lampung Selatan maupun Pulau Sebesi menjadi modal bagi masyarakat dan pemerintah untuk melakukan mitigasi kebencanaan. Untuk itu, perlu digerakkan lagi khususnya dana desa digulirkan selain untuk pembangunan infrastruktur juga untuk melakukan mitigasi kebencanaan.

Menurut dia, segera dilakukan mitigasi diantaranya penyediaan lahan penampungan pengungsi, akses jalan menuju tempat wilayah evakuasi, lumbung pangan saat terjadi bencana, dan juga sistem informasi kebencanaan di wilayah rentan bencana. “Semua pihak harus terlibat dalam mitigasi bencana,” ujarnya.

Pemantaun Republika di dusun-dusun Pulau Sebesi, selama empat hari, selain memberikan bantuan perahu dan mesin perahu agar nelayan dapat melaut kembali. Melalui Salma, aktivis psikososial kebencanaan, Kiara juga memberikan bantuan pemulihan psikologis para perempuan terutama ibu-ibu dan juga anak-anak, yang sampai sekarang masih menyisakan trauma pascabencana tsunami. Kegiatan keterampilan menjahit bagi ibu-ibu dan mendongeng dan bermain bagi anak-anak, setidaknya menghilangkan trauma bencana yang lalu.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA