Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Minggu, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

BPPT Siap Jalankan Hujan Buatan

Selasa 17 Sep 2019 16:18 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Dwi Murdaningsih

Teknologi Hujan Buatan Atasi Polusi Jakarta. Sejumlah gedung bertingkat terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (3/7).

Teknologi Hujan Buatan Atasi Polusi Jakarta. Sejumlah gedung bertingkat terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (3/7).

Foto: Fakhri Hermansyah
BPPT juga akan menyebar pupuk ke lahan gambut agar subur.

REPUBLIKA.CO.ID,  RIAU -- Presiden RI Joko Widodo, meninjau Posko Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau Hujan Buatan BPPT, di Lanud Rusmin Noerjadin, Pekanbaru, Riau, Selasa (17/9). Kepala BPPT Hammam Riza menuturkan bahwa pihaknya siap menjalankan arahan Presiden dalam Ratas Penanganan Karhutla, yaitu menjalankan operasi hujan buatan secara lebih besar.

Hammam memandang hujan buatan akan lebih optimal jika dilakukan sebagai langkah pencegahan.

"Hujan buatan akan optimal jika terdapat ekosistem teknologi modifikasi cuaca (TMC). Jadi tidak terbatas hanya kegiatan di udara, menyemai awan dan menurunkan hujan. Tapi juga diiringi dengan kegiatan di darat, berupa ground control dan juga sosialisasi ke masyarakat," katanya dalam siaran pers, Selasa (17/9).

Terkait pelaksanaan hujan buatan, Hammam mengungkap bahwa Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT, saat melaksanakan hujan buatan, membidik awan yang berpotensi hujan. Walau begitu, ia mengakui sulit ditemukan potensi awan hujan.

"Belakangan ini memang jumlah awan potensi hujan berkurang. Namun berdasarkan info cuaca, awan dengan relative humidity 70 persen atau yang berpotensi hujan, mulai bermunculan," terangnya.

Di sisi lain, terkait solusi teknologi untuk pencegahan Karhutla di lahan gambut, Hammam merinci bahwa langkah berikutnya ialah menyebarkan seluas-luasnya inovasi BPPT lainnya yaitu pupuk hayati biopeat ke lahan gambut. Dengan pupuk ini imbuhnya, lahan gambut dapat menjadi subur karena memiliki unsur pH yang tinggi.

"Kami inginkan adanya inovasi biopeat ini, mengubah cara masyarakat agar membuka lahan tanpa membakar. Kami sudah uji di Bengkalis, Pulau Sambu Kepri, dan Merauke. Telah dibuktikan disana, bahkan lahan gambut dapat ditanami komoditas pertanian seperti jagung, juga buah nanas dan buah naga," jelasnya.

Hammam berharap, Karhutla dapat menjadi pelajaran agar perspektif penanganan difokuskan dalam hal pencegahan. "Saya harap ke depan dapat menjadi pembelajaran untuk menangani Karhutla dari pencegahan. Dibutuhkan perencanaan  dalam melakukan hujan buatan. Jadi potensi hotspot dapat  dipadamkan sebelum terjadi kebakaran," pungkasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA