Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Erdogan Dinilai Layak Raih Gelar Muslim Paling Berpengaruh

Kamis 19 Sep 2019 05:00 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Presidential Press Service via AP
Erdogan dinilai pemimpin yang memiliki jangkauan tak hanya Timteng, tapi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat dan akademisi bidang Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menyebut bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan layak menyandang gelar sebagai tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia saat ini.

Baca Juga

Pendapat itu menyusul pengumuman The Royal Islamic Strategic Studies Centre Yordania yang merilis 500 Tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2019 dengan menempatkan Erdogan pada peringkat nomor satu.

“Memang harus kita akui Erdogan banyak bekerja untuk dunia, pertama sekali konsistensi dia sebagai anggota NATO yang tidak gampang menurut pada Amerika Serikat,” kata Rezasyah, Rabu.

Menurut dia, saat ini dunia kekurangan pemimpin Islam yang berani bersikap tegas dan konsisten. Ia pun memperhatikan Erdogan sebagai sosok kepala negara yang sangat konsisten. Erdogan punya perhitungan jelas, dan jangkauannya bukan hanya Timur Tengah tapi juga dunia.

Dengan karakter yang demikian, tambah Teuku, Erdogan menjadi figur yang dikagumi oleh masyarakat Muslim sehingga mendapat dukungan dari bawah.

Hal serupa dinyatakan oleh diplomat senior yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia pada periode 2001 hingga 2009, Hassan Wirajuda.

“Presiden Erdogan memang politisi sukses yang memulai karier dari wali kota, perdana menteri, sampai presiden. Oleh karena itu, dalam ukuran waktu, dia panjang juga kekuasaannya,” ucap Hassan.

Walaupun setuju dengan pandangan Erdogan layak menjadi tokoh Muslim paling berpengaruh, Hassan juga melihat Erdogan mulai cenderung otokrat atau ingin mempunyai kekuasaan mutlak.

“Erdogan punya peningkatan tahap karier, tapi juga ada peningkatan ke arah otoriter. Karena itu mulai ada perlawanan termasuk di Kota Istanbul, itu tanda di dalam negeri sepertinya popularitas dia mulai menurun,” ujar Hassan.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA