Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Cara Jaksel Kurangi Sampah

Sabtu 21 Sep 2019 18:54 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Sampah

Ilustrasi Sampah

Foto: Mgrol101
Jaksel menyumbang 1.500 ton sampah per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Walikota Jakarta Selatan, Isnawa Adji mengatakan, Jakarta Selatan setiap harinya menyumbang sampah seberat 1.500 ton. Isnawa pun membuat beberapa macam upaya agar dapat mengurangi jumlah sampah di wilayahnya, terutama sampah plastik.

Baca Juga

"Jakarta Selatan sampahnya di kisaran 1.500 ton per hari. Salah satu yang ingin kita kampanyekan adalah melakukan pengurangan-pengurangan sampah pada sumbernya," kata Isnawa saat ditemui di Taman Honda, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (21/9).

Isnawa mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang menangani pengurangan sampah itu dengan mendekati seluruh hotel, restoran, dan kafe (horeka) yang ada di wilayah Jakarta Selatan. Ia mengimbau seluruh pengelola horeka agar mengurangi sampah dengan cara tidak lagi menyediakan sedotan plastik, botol-botol minuman dalam kemasan plastik, dan kantong plastik.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta itu menilai, jika masyarakat di Jakarta Selatan dapat melakukan tiga hal tersebut, maka dapat mengurangi jumlah sampah secara signifikan. "Tiga hal itu saja dilakukan, misalnya oleh warga Jakarta Selatan, tentunya pengurangan sampahnya sudah sangat signifikan dari 1.300-1.500 ton per hari, mungkin sudah bisa (turun) di kisaran 900-1.000 ton," kata Isnawa. 

Upaya lainnya, ucap dia, adalah mengampanyekan program Bank Sampah Pramuka di seluruh sekolah yang ada di wilayah Jakarta Selatan. Mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA, baik sekolah negeri maupun swasta. 

Isnawa menuturkan, program ini merupakan kerja sama antara pemerintah bersama Kwarda DKI Jakarta dan juga Bank BNI. Ia menjelaskan, melalui program ini, nantinya para siswa dapat menabung dengan cara membawa sampah anorganik dari rumah ke Bank Sampah Pramuka itu. 

"Jadi siswa itu ke sekolah bawa sampah anorganiknya, menabung. Saldonya itu masuk ke buku tabungannya dan nanti setelah enam bulan hingga satu tahun, uangnya bisa dicairkan. Setidaknya sampah di rumah tangga bisa dikurangi menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis," kata dia. 

Saat ini, kata dia, Bank Sampah Pramuka itu sudah mulai berjalan di 220 sekolah dari ribuan sekolah yang ada di Jakarta Selatan. Ia berharap program ini dapat terus dioptimalkan dan kelak diterapkan di seluruh sekolah yang ada di DKI Jakarta. Tidak hanya sebagai upaya pengurangan sampah, tetapi juga satu bagian untuk mengedukasi para siswa terkait kepedulian terhadap lingkungan hidup.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA