Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Dua Daerah di Indramayu tak Diguyur Hujan Selama 5 Bulan

Ahad 22 Sep 2019 23:48 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petani berada di areal sawah miliknya yang kekeringan di Desa Pegagan, Kecamatan Terisi, Indramayu, Jawa Barat, Senin (15/7/2019).

Petani berada di areal sawah miliknya yang kekeringan di Desa Pegagan, Kecamatan Terisi, Indramayu, Jawa Barat, Senin (15/7/2019).

Foto: Antara/Dedhez Anggara
BMKG menyebut hampir semua daerah di Indramayu berpotensi alami kekeringan ekstrim

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Musim kemarau panjang yang berpotensi menyebabkan kekeringan ekstrim dengan status awas, masih melanda hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Indramayu. Bahkan, ada dua wilayah yang tak pernah diguyur hujan sama sekali dalam lima bulan terakhir.

Adapun dua wilayah itu yakni, Kecamatan Haurgeulis dan Kecamatan Kroya. "Kedua wilayah itu mengalami Hari Hujan Terpanjang (HTH) selama 156 hari,' ujar Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi, Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Izyn, Ahad (22/9).

Selain kedua wilayah di Kabupaten Indramayu, HTH Terpanjang juga terjadi wilayah Cilamayan Kulon, Kabupaten Karawang. Wilayah itu mengalami HTH selama 146 hari. Faiz mengungkapkan, hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Indramayu berpotensi mengalami kekeringan ekstrim karena tidak hujan berturut-turut selama lebih dari 60 hari terakhir. Kondisi serupa juga terjadi di hampir seluruh kecamatan di Majalengka, Cirebon, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Sumedang dan Sukabumi.

Faiz menambahkan, pada dasarian III September 2019, Provinsi Jawa Barat pada umumnya diprakirakan masuk dalam kategori curah hujan rendah. Untuk curah hujan 20 – 50 mm/das, berpeluang terjadi di sebagian besar Bogor, Sukabumi utara, Cianjur utara, Garut tengah dan Tasikmalaya tengah.

Menghadapi musim kemarau ini, Faiz mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi bahaya kekeringan akibat semakin berkurangnya ketersediaan air di sumber-sumber air dan krisis air bersih. Selain itu, harus pula mewaspadai meningkatnya potensi gagal panen dan kenaikan harga komoditas pertanian.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana, menyatakan, pihaknya selalu siaga menghadapi kondisi kekurangan air bersih yang terjadi di masyarakat. Dia juga mengimbau desa-desa untuk mengajukan bantuan air bersih bilamana warganya mengalami krisis air bersih.

"Kalau ada permintaan, kami akan kirimkan air bersih melalui mobil-mobil tangki," tandas Edi. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA