Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

PLN Tambah Kapasitas Pembangkit 872 MW Sepanjang Semester I

Senin 23 Sep 2019 11:30 WIB

Rep: M Nursyamsyi/ Red: Friska Yolanda

Pembangkit Listrik PLN

Pembangkit Listrik PLN

PLN mengoptimalkan pemakaian pembangkit berbahan bakar batu bara alih-alih BBM.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi listriknya pada tahun ini. Hingga semester I 2019, PLN telah menambah kapasitas pembangkit sebesar 872,44 megawatt (MW) sehingga total kapasitas terpasang pembangkit di Indonesia menjadi 58.519 MW.

Baca Juga

PLN juga berhasil menambah jaringan transmisi 2.847 kilometer sirkuit (kms) menjadi 56.453 kms, dan menambah Gardu Induk sebesar 6.557 MVA menjadi 137.721 MVA. "Hal ini untuk mendukung peningkatan penjualan PLN. Penambahan kapasitas juga dilakukan disisi energi baru terbarukan (EBT), di mana pada semester 1 tahun 2019, PLN berhasil menambah 135 MW yang berasal dari EBT. Dengan penambahan ini maka total kapasitas pembangkit dari EBT yakni sebesar 7.266 MW," kata Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto, Senin (23/9).

PLN juga terus mengurangi penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) dan mengoptimalkan pembangkita batu bara. Kontribusi produksi listrik dari Pembangkit batu bara sebesar 61 persen dari total produksi listrik nasional. Efisiensi operasi secara signifikan juga dilakukan secara berkelanjutan dengan mengurangi konsumsi BBM untuk pembangkit PLN, dan menggantinya dengan Biofuel serta menambah pasokan listrik dari pembangkit lain yang berbiaya operasi lebih murah.

"PLN tetap mengoptimalkan pembangkit berbahan bakar batubara untuk mendongkrak efisiensi sejalan dengan dukungan pemerintah terkait harga maksimal batubara untuk sektor kelistrikan," lanjutnya.

Sarwono melanjutkan, listrik dari pembangkit BBM (fuel mix) selama Semester I 2019 menurun signifikan menjadi 4,3 persen atau lebih rendah dibanding akhir 2018 sebesar 6 persen. Ini juga jauh lebih rendah dibanding akhir 2014 sebesar 12 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA