Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Karhutla Picu Konflik Orang Utan dengan Manusia

Senin 23 Sep 2019 17:00 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Andi Nur Aminah

Seekor orang utan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019).

Seekor orang utan (Pongo pygmaeus) berada di lokasi pra-pelepasliaran di Pulau Kaja, Sei Gohong, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (19/9/2019).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Orang utan usia 7 tahun didapati terkapar usai terjebak jerat jebakan buatan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, KETAPANG -- Balai Konservasi Sumber Aaya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan satu individu orang utan di kabun karet milik warga di Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang akhir pekan kemarin. Orangutan yang diprediksi berumur tujuh tahun tersebut didapati tengah terkapar usai terjebak jerat jebakan buatan manusia.

Baca Juga

Orang utan tersebut dalam keadaan dehidrasi dan luka membusuk di bagian kaki. Kondisi tubuhnya juga kurus.

“Ini sudah kali kedua kami menemukan orangutan yang terjebak jerat di lokasi sekitar disini. Dulu pada tahun 2012, kami juga menyelamatkan satu orangutan yang karena jerat, lukanya sangat parah sehingga tangannya harus diamputasi,” kata Manager Lapangan IAR Indonesia Argitoe Ranting, Senin (23/9).

Argitoe mengatakan orangutan turun ke perkebunan dan lahan pertanian milik warga karena habitatnya di hutan semakin sempit. Penyebabnya Argitoe mengatakan, tak lain karena semakin maraknya pembakaran hutan untuk membuka lahan baru oleh manusia.

Argitoe menjelaskan di daerah Kuala Satong, Ketapang, yang berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Palung, dulunya juga banyak hutan dan habitat orangutan.

Akibat pembukaan lahan yang dikonversi menjadi sawit dan kebakaran hutan menurut Argitoe membuat habitat orangutan semakin mengecil. Kebakaran hutan di daerah Kuala Satong sangat luas dan menyebar. Kebakaran habitat yang luas ini lanjut dia mendorong orangutan masuk ke kebun warga dan menimbulkan konflik manusia-orangutan. Orangutan yang masuk ke kebun bisa merusak kebun untuk mencari makan dan pada akhirnya, manusia juga yang turut dirugikan.

Karena itulah Yayasan IAR bersama BKSDA melakukan tindakan penyelamatan demo mencegah kerugian warga dan demi keselamatan orang utan.

Saat ini, individu orang utan yang baru saja diselamatkan berada di dalam penanganan tim medis IAR Indonesia. Mereka melakukan perawatan dan pengobatan yang diperlukan. Bila nanti kondisi kesehatannya sudah pulih total orangutan ini dilepas kembali ke alam.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA