Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Rekaman Akhir Penerbangan, Twin Otter Jatuh Menabrak Gunung

Selasa 24 Sep 2019 15:46 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Pesawat jatuh (ilustrasi)

Pesawat jatuh (ilustrasi)

Foto: EPA
Evakuasi para korban akan diperpanjang hingga tiga hari.

REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA -- Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Budi Purnomo menduga pesawat Twin Otter DHC6-400 PK CDC yang hilang kontak dalam penerbangan Timika-Ilaga pada Rabu (8/9) mengalami kecelakaan. Pesawat jatuh menabrak dinding pegunungan di wilayah Distrik Hoeya, Kabupaten Mimika.

Baca Juga

"Dari rekaman penerbangan yang kita dapatkan setiap dua menit, di bagian akhir terlihat pesawat ini membentur dinding gunung. Kami akan memberikan penjelasan lebih lengkap kalau sudah menemukan potongan-potongan dari pesawat itu terutama rekaman penerbangan dan rekaman suara pilot," kata Brigjen Budi di Timika, Selasa.

Rencana evakuasi tiga awak pesawat bersama seorang penumpang dari lokasi kecelakaan pesawat tersebut ke Bandara Timika hingga Selasa siang belum bisa dilakukan karena kondisi cuaca di lokasi itu berangin kencang hingga 30 knots. Selain itu kabut tebal yang mulai menutupi kawasan tersebut.

Sesuai hasil koordinasi dengan pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), operasi SAR untuk evakuasi para korban akan diperpanjang hingga tiga hari ke depan.

"Hari ini kami menemukan titik terang lagi sehingga operasi SAR ini akan diperpanjang hingga tiga hari ke depan. Itu wilayahnya sudah ditangani KNKT, kami tetap mendukung untuk menemukan rekaman penerbangan dan rekaman percakapan pilot," kata Brigjen Budi.

Lokasi jatuhnya pesawat Twin Otter PK CDC itu diketahui berada pada area yang sangat terjal dengan kemiringan 80-90 derajat (dinding tegak) pada ketinggian sekitar 13.500 kaki atau sekitar 3.900 meter di atas permukaan laut.

Brigjen Budi mengatakan, upaya evakuasi para korban dan komponen penting pesawat lainnya hanya bisa dilakukan dengan menggunakan armada helikopter rotor wing dengan kapasitas angkut penumpang (Tim SAR) hanya dua orang.

Sementara untuk melakukan evakuasi melalui jalur darat dinilai tidak efektif dan efisien. Ini mengingat jarak dari lokasi terdekat yaitu Kampung Mamontoga ke lokasi kecelakaan masih cukup jauh yakni sekitar 7 kilometer (bentangan lurus).

Adapun di lokasi itu medannya bergunung-gunung terjal di atas ketinggian 12 ribu kaki dengan kondisi cuaca yang selalu tertutup kabut tebal setiap saat disertai hembusan angin kencang.

"Kita memerlukan waktu yang lebih cepat. Satu-satunya cara yaitu mendekat menggunakan helikopter. Kondisi cuaca di lokasi itu tidak bisa diprediksi, cuacanya bisa terbuka cuma sekitar setengah jam atau satu jam, selebihnya selalu gelap," kata Brigjen Budi.

Saat ini Tim SAR gabungan yang terdiri atas Basarnas, TNI dan Brimob membuat Posko pada dua lokasi terdekat yaitu Kampung Mamontoga dan Ilaga.

Sesuai rencana, pihak Basarnas akan mendatangkan dua orang pendaki dari Vertical Rescue Indonesia/VRI yang memiliki keahlian melakukan pendakian pada dinding gunung tegak.

Pesawat Twin Otter DHC6-400 PK-CDC dinyatakan hilang kontak dalam penerbangan dari Timika menuju Ilaga, Kabupaten Puncak pada Rabu (18/9) pukul 10.56 WIT.

Pesawat tersebut dikemudikan Kapten Pilot Dasep Ishak Sobirin dengan Copilot Yudra dan mekanik Ujang Suhendar membawa serta seorang penumpang yaitu Bharada Hadi Utomo yang merupakan anggota Brimob.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA