Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Kronologi Demo Mahasiswa Tolak RKUHP Versi Polisi

Rabu 25 Sep 2019 20:36 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Andri Saubani

Ribuan mahasiswa kembali berdemonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9).

Ribuan mahasiswa kembali berdemonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/9).

Foto: Republika/Febryan.A
Demo besar-besaran mahasiswa pada Selasa (24/9) terpusat di depan Gedung DPR/MPR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para mahasiswa dari berbagai universitas melakukan aksi unjuk rasa yang menuntut penolakan terhadap revisi RKUHP dan revisi UU KPK di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Selasa (24/9) berakhir ricuh. Polisi pun mengungkapkan kronologi peristiwa itu.

Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono mengungkapkan, para mahasiswa mulai berkumpul di depan gedung DPR/MPR sejak pukul 08.00 WIB. Gatot menyebut, para mahasiswa mencoba masuk ke jalan tol dalam kota arah Cawang-Grogol yang berada di depan gedung DPR/MPR mulai pukul 14.00 WIB.

"Tetapi situasi masih aman dan kondusif," kata Gatot di Mapolda Metro Jaya, Rabu (25/9).

Setelah itu, sambung Gatot, pada pukul 16.00 WIB, mahasiswa mulai meminta agar dapat berkomunikasi dengan para pimpinan DPR, termasuk ketua DPR RI, Bambang Soesatyo. Pihak kepolisian pun meneruskan permintaan itu dan berkoordinasi dengan pihak Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR. Pihak Sekjen kemudian menyampaikan bahwa para pimpinan DPR siap untuk memenuhi permintaan para mahasiswa tersebut.

"Tetapi dari adik-adik mahasiswa menghendaki ketua DPR dan pimpinannya untuk datang di tengah-tengah adik-adik mahasiswa yang sedang melaksanakan unjuk rasa," ujar Gatot.

Namun, karena mempertimbangkan sejumlah faktor, kata Gatot, permintaan mahasiswa itu pun tidak bisa terpenuhi. Mengetahui hal itu, mahasiswa pun menyampaikan, jika pimpinan DPR tidak bisa menemui mereka, maka mereka tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekitar pukul 16.05 WIB, jelas Gatot, para mahasiswa mulai meneriakkan yel-yel dan berusaha masuk ke dalam area Gedung DPR/MPR. Ia mengungkapkan, saat itu mahasiswa mulai mendorong dan melempari petugas kepolisian yang berada di pagar depan gedung dengan menggunakan botol minum hingga batu.

Sementara itu, jelas dia, mahasiswa yang berada di samping kanan juga sudah mulai merusak pagar gedung DPR. "Karena apa, karena tujuannya untuk masuk ke dalam DPR dan ingin menguasai DPR," ungkap Gatot.

Melihat aksi itu, polisi pun mulai mengambil tindakan tegas. Sebab menurut Gatot, aksi yang dilakukan mahasiswa itu sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan anarkis. Sehingga pihaknya bertindak tegas.

Gatot menilai, langkah tegas yang diambil kepolisian sudah dilakukan sesuai dengan aturan yang ada, yakni pertama, menembakkan meriam air (water cannon) ke arah mahasiswa, agar mereka mundur.

Namun, tembakan meriam air itu tidak membuat mahasiswa mundur. Gatot menyebut mereka justru maju, bahkan semakin merusak pagar DPR.

Karena hal itulah, kata dia, pihak kepolisian menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa. "Sehingga atas nama Undang-Undang, tentunya polisi melakukan tindakan tegas menembakkan gas air mata kepada pengunjuk rasa, supaya adik-adik mahasiswa ini mundur," papar Gatot.

Gatot menyebut, bentrokan antara massa dan petugas kepolisian berlangsung hingga malam hari. Bentrokan itu baru berakhir sekitar pukul 01.15 WIB.

Polisi kini sudah mengamankan 94 orang yang diduga terlibat di dalam kericuhan tersebut. Namun, Gatot tidak merinci, mereka berasal dari kalangan mahasiswa, masyarakat sipil, atau kelompok tertentu. Ia mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan.

"Kita akan pilah-pilah dari mana mereka ini, apakah mereka ini dari adik-adik mahasiswa, kemudian dari masyarakat atau dari pihak-pihak lain, tentunya masih kita dalami," ucap Gatot.

Akibat aksi yang berbuntut kericuhan itu, berdasarkan data yang dimiliki polisi terdapat sejumlah fasilitas dan kendaraan yang mengalami kerusakan. Di antaranya, pagar gedung DPR, satu unit mobil pengurai massa (Raisa) dan mobil meriam air (water cannon) milik Polri, serta sebuah bus milik TNI.

Selain itu, massa juga merusak hingga membakar tiga pos polisi (pospol). Tiga pospol itu terdiri dari pospol Palmerah, pospol di bawah jalan layang Slipi, serta pospol yang terletak di pertigaan Hotel Mulia. Tidak hanya itu, sejumlah orang juga mengalami luka, poliso mencatat 254 orang terluka dan dirawat jalan, 11 orang dirawat inap, serta 39 orang polisi juga mengalami luka.

Gatot menambahkan, dalam proses pengamanan aksi kemarin, pihaknya telah memberikan toleransi dan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan pendapatnya. Termasuk mengupayakan dan memfasilitasi permintaan mahasiswa untuk bertemu dengan pimpinan DPR.

"Karena niat baik kita untuk memberikan toleransi ini disalahgunakan, maka nanti kami akan melakukan penyekatan-penyekatan, tentunya pengamanan ini terhadap adik-adik mahasiswa apabila melakukan unjuk rasa kembali," imbuhnya.

Di sisi lain, ia mengimbau kepada mahasiswa agar bisa mengikuti segala aturan yang berlaku jika nanti kembali menggelar aksi unjuk rasa, sehingga kerusuhan atau bentrokan tidak terulang lagi.

"Saya yakin betul bahwa adik-adik mahasiswa adalah mahasiswa-mahasiswa yang cerdas, lakukan dengan cara-cara yang cerdas, dengan cara-cara yang elegan, dengan cara-cara yang tentunya sesuai ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang ada," jelasnya.

Ia pun menegaskan, pihaknya tidak menggunakan peluru karet maupun peluru tajam saat mengamankan aksi unjuk rasa. "Kita tidak menggunakan satu peluru karet pun. Pagi sudah saya perintahkan kepada Brimob dan Sabhara, semua peluru karet, apalagi peluru tajam tidak ada yang digunakan," tutur Gatot.

Gatot mengatakan, untuk membubarkan massa, pihaknya hanya menggunakan gas air mata. "Jadi semuanya hanya gas air mata," ujar Gatot.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA