Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Saturday, 4 Sya'ban 1441 / 28 March 2020

Investigasi Mahasiswa Meninggal di Sultra Diminta Transparan

Sabtu 28 Sep 2019 02:45 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny / Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Jenazah almarhum Immawan Randi (21) berada di ruang jenazah RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019).

Jenazah almarhum Immawan Randi (21) berada di ruang jenazah RS Abunawas Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019).

Foto: Antara/Jojon
Imparsial meminta polisi dalam investigasi mahasiswa meninggal melibatkan pihak lain

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Imparsial, Anton Aliabbas, mengatakan investigasi atas meninggalnya dua mahasiswa asal Sulawesi Tenggara (Sultra) harus dilakukan secara transparan. Menurut dia, proses investigasi bisa menjawab berbagai kritik yang ditujukan kepada Polri akhir-akhir ini.

Baca Juga

"Investigasi nanti diharapkan tidak hanya sekedar tuntas, tetapi harus transparan dan akuntabel. Jadi kita memang harus menguji itu (kebenaran fakta di lapangan)," ujar Anton kepada wartawan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (27/9). 

Sebab,  kata Anton, saat ini ada berbagai asumsi terkait peluru yang mengenai salah satu korban yang meninggal. Anton menilai, meski sudah dipastikan korban meninggal akibat tertembak akan tetapi publik tidak bisa lantas berprasangka bahwa peluru berasal dari senjata yang digunakan polisi. 

"Sebab kita tidak tahu, dalam kondisi di lapangan sedang chaos itu bisa aja dilakukan oleh siapapun. Itulah pentingnya ada Investigasi yang juga melibatkan pihak lain sehingga jelas prosesnya dan akan menjadi titik uji bagi polisi yang saat ini banyak menerima kritik dari pihak luar," tutur Anton. 

Karena itu, dia menyarankan kepolisian benar-benar mengeksekusi investigasi dengan melibatkan pihak lain, misalnya tim dari Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM). Tujuannya supaya masyarakat bisa menerima hasil investigasi ini secara luas. 

"Saya pikir ini penting, penyelidikannya melibatkan pihak luar. Sehingga nanti bisa buktikan apakah peluru ini ditembakkan oleh aparat atau ada pihak lain yang memang mencoba memperkeruh situasi. Jadi untuk membuat jelas problem ini," tegas Anton.  

Sebelumnya, Demonstrasi menolak RKUHP dan sejumlah RUU di Kompleks DPRD Sultra, Kota Kendari berakhir ricuh. Salah satu mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Haluoleo bernama Randi meninggal dunia akibat tertembak saat kericuhan berlangsung. 

Randi sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia pada Kamis (26/9). Salah seorang mahasiswa lain yang juga berasal dari kampus yang sama, yakni Muhammad Yusuf Fardawi, yang terluka di bagian kepala, akhirnya pun meninggal pada Jumat dinihari. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA