Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Saat Rasulullah SAW Meminta Hujan

Selasa 01 Okt 2019 04:04 WIB

Rep: Dialog Jumat Republika/ Red: Agung Sasongko

Hujan deras/ilustrasi

Hujan deras/ilustrasi

Foto: Flickr
Rasulullah SAW pernah mencontohkan bagaimana cara meminta hujan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak juga padam. Alih-alih berkurang, titik api justru kian menyebar ke berbagai daerah lain. Jambi menjadi salah sa tu provinsi yang menjadi korban dari tangan-tangan manusia pem bakar. Untuk memadamkan api, doa juga perlu dilakukan se lain ikhtiar yang optimal.

Hujan menjadi media yang efektif untuk memadamkan kebakaran. Sebagai makhluk yang lemah, sudah selayaknya kita me mohon kepada Allah SWT Sang Pemilik Hujan untuk menurunkan air itu dari langit.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan bagaimana cara meminta hujan. Pada satu hari, Nabi SAW menjanjikan kepada para sahabat untuk keluar ke tanah lapang. Rasulullah keluar ketika matahari telah terbit. Dengan ta wadhu, rendah hati, dan khusyu, beliau naik ke mimbar.

Rasulullah SAW pun memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya serta mengagungkan-Nya. Di antara isi khutbah yang disampaikan dan doa yang dipanjatkan Na bi SAW adalah, "… Ya Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.

Engkau Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang fakir. Turunkan lah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan membawa kekuatan untuk kami dan mencukupi hingga saat nya."

Beliau mengangkat kedua tangannya. Nabi SAW menunduk dan berdoa. Beliau mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sampai tampak putih kedua ketiaknya. Kemudian, dia membalikkan punggungnya kepada para sahabat dan menghadap kiblat.

Pada saat itu, selendangnya di balik. Sementara, dia tetap menghadap kiblat dengan menjadikan sisi kanan berada di sisi kiri dan sisi kiri berada di sisi kanan.

Selendang beliau yang semula berada di punggungnya dipindahkan ke posisi perut. Setelah berada di posisi perut, dia letakkan di punggungnya dengan menghadap kiblat. Begitu juga posisi para sahabat. Beliau turun lalu shalat dua rakaat bersama para sahabat sebagaimana shalat Id. Tanpa azan dan iqamah serta seruan apa pun. Pada kedua rakaat tersebut, beliau menjaharkan bacaannya. Pada rakaat pertama, beliau mem baca surah al- Fatihah dan surah al-A'la. Se dang kan, pada rakaat kedua, beliau membaca surah al-Ghasiyyah.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga berdoa meminta hujan pada hari Jumat. Doa itu dipanjatkan Rasulullah SAW di atas mimbar. "Ya Allah, bantulah ka mi dengan air hujan! Ya Allah, bantulah kami dengan air hujan! Ya Allah, bantulah kami dengan air hujan! Ya Allah, berilah kami air hujan. Ya Allah, berilah kami air hujan!

Rasulullah SAW juga memin ta hujan di atas mimbar Madinah hanya semata-mata untuk meminta hujan. Tidak dilakukan secara berjamaah.

Cara lainnya, Nabi SAW meminta hujan dengan cara duduk bersimpuh di masjid. Beliau meng angkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah SWT. Di an tara doa beliau yang disebut kan dalam hadis adalah: "Ya Allah, turunkanlah hujan yang merata, menyuburkan, menyeluruh, langsung, dan sesegera mung kin tanpa mengotori dan memberi kemanfaatan, tanpa mendatangkan mara bahaya dan kemudharatan."

Doa meminta hujan juga dipanjatkan di sisi-sisi pohon zaitun yang dekat dengan az-Zaura. Posisinya berada di luar pintu masjid yang dinamai dengan Babus Salam. Ada di sekitar fondasi batu pada sisi sebelah kanan luar masjid.

Nabi juga meminta hujan di sebagian peperangan yang terjadi. Ketika itu, kaum musyrikin mendahului pasukan Muslimin dalam menempati sumber mata air. Kaum Muslimin pun mengalami kehausan. Mereka lantas mengadu kepada Rasulullah SAW. Beberapa orang munafik berkata, "Jikalau dia benar-benar seorang nabi, niscaya ia akan memintakan hujan untuk kaum nya sebagaimana yang dilakukan Nabi Musa untuk kaumnya."

Perkataan itu sampai kepada Nabi. Beliau bersabda, "Apakah mereka memang benar-benar telah mengatakan demikian? Semoga Tuhan kalian menurunkan hujan kepada kalian."

Rasulullah SAW pun membentangkan kedua tangannya dan berdoa. Belum sampai beliau mengembalikan kedua tangannya pada posisi semula dan mengakhiri doanya, awan pun menghitam. Penuhlah lembah teraliri dengan air hujan. Para sahabat pun meminum air hujan itu hingga hilang dahaga mereka.

Doa Nabi SAW dalam memin ta hujan kerap dijawab. Hujan selalu turun ketika beliau memintanya. Rasulullah SAW bahkan ikut keluar dari rumah menik mati air hujan pemberian Allah SWT. Ini seperti diriwayatkan Imam as-Syafi'i Rahimahullah tentang hadis yang berasal dari Yazid bin al-Had.

Nabi SAW, jika terjadi luberan air mengalir, beliau bersabda: "Keluarlah kalian bersama kami (ini adalah air) yang Allah jadi kan sebagai sarana bersuci." "Maka kami bersuci dengan air itu dan kami memuji Allah Ta'ala dengan karunia tersebut."

Sumber: Fiqih Shalat karya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA