Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Rabu, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Mengenang 10 Tahun Gempa Padang dan Mitigasi Bencana

Selasa 01 Okt 2019 02:51 WIB

Rep: Antara/ Red: Friska Yolanda

Warga bersama tokoh masyarakat, melakukan tabur bunga di Monumen Gempa 30 September 2009, di Padang, Sumatera Barat, Ahad (30/9).

Warga bersama tokoh masyarakat, melakukan tabur bunga di Monumen Gempa 30 September 2009, di Padang, Sumatera Barat, Ahad (30/9).

Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Mitigasi struktural perlu ditingkatkan mengingat masih ada ancaman gempa megathrust.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pada Rabu 30 September 2009, pukul 17.16 WIB, warga Padang dan sekitarnya dikejutkan oleh guncangan gempa dahsyat berkekuatan 7,6 Skala Richter. Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah hingga menelan korban jiwa yang mengacu kepada data Satkorlak PB, sebanyak 1.117 orang tewas, 1.214 luka berat dan luka ringan 1.688 orang. Tak hanya itu tercatat 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rumah rusak sedang, dan 78.604 rumah rusak ringan.

Baca Juga

Beruntung gempa tidak diikuti gelombang tsunami karena jika air laut sempat naik maka jumlah korban bisa menjadi lebih banyak lagi. Kala itu, informasi dan pengetahuan masyarakat soal gempa belum sebaik saat ini sehingga muncul kepanikan luar biasa di masyarakat. Selain itu informasi yang simpang siur dan belum adanya kesiapan untuk menghadapi gempa menyebabkan bangunan belum dirancang untuk tahan gempa sehingga banyak yang ambruk. Saat itu bahkan belum ada Badan Penanggulangan Bencana Daerah selaku lembaga yang khusus menangani gempa.

Musibah tersebut benar-benar berbekas karena kesiapan dan ilmu menghadapi bencana yang minim saat itu. Ketika itu cukup banyak informasi berseliweran yang membuat resah masyarakat karena terbatasnya pengetahuan. Bahkan kala itu usai gempa ada warga yang tak berani masuk rumah berhari-hari karena khawatir akan gempa susulan.

Kini 10 tahun sudah gempa berlalu ada cukup banyak perubahan wajah kota karena bangunan yang ambruk berganti baru. Tak hanya itu sejumlah upaya mitigasi dan antisipasi ke depan terus dilakukan oleh pemerintah Kota Padang. Hal itu mengingat berdasarkan hasil penelitian masih ada ancaman gempa megathrust bersumber dari segmen Siberut yang hingga saat ini belum mengeluarkan energi.

Saat ini terdapat tiga bangunan tinggi sebagai tempat evakuasi sementara yang berlokasi di Ulak Karang, Parupuk Tabing dan Tabing yang dengan daya tampung sekitar 5.000 jiwa per lokasi. Tak hanya itu saat ini terdapat sekitar 58 bangunan lain yang bisa digunakan sebagai tempat evakuasi sementara warga. Kemudian sebagai petunjuk bagi warga jika gempa dan tsunami terjadi telah dibuat papan petunjuk yang dipasang di 700 lokasi di Padang. Di papan tersebut ada petunjuk arah ke mana evakuasi terdekat.

Di samping itu dalam tiga tahun terakhir BPBD Padang telah memperbanyak penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang apa yang harus dilakukan jika gempa dan tsunami terjadi. Ada 30 baliho kecil yang disiapkan di berbagai tempat mulai dari lokasi wisata dan persimpangan berisi informasi apa yang harus dilakukan saat gempa.

BPBD Padang juga membuat poster tentang siaga bencana yang dibagikan kepada masyarakat hingga penyuluhan kepada 150 sekolah dari 400 sekolah yang berada di zona rawan. Untuk penanda wilayah aman dari tsunami juga telah dibuat tulisan tsunami safe zone dengan latar biru di 22 jalan yang ada di Padang.

Dengan adanya penanda ini masyarakat bisa memperkirakan apakah sudah berada di daerah yang sudah aman atau perlu melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. BPBD juga menggandeng kelompok siaga bencana untuk menyosialisasikan kebencanaan kepada masyarakat.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang Edi Hasymi mengatakan yang paling utama saat bencana terjadi adalah masyarakat memiliki ilmu dan paham apa yang akan dilakukan. Oleh sebab itu pihaknya selain fokus pada pembenahan fisik juga memprioritaskan sosialisasi tanggap bencana agar masyarakat menjadi lebih cerdas.

Ia berharap kalau warga Padang sudah memiliki ilmu soal bagaimana menghadapi gempa risiko bisa lebih ditekan dan yang selamat menjadi lebih banyak. "Cerdas menghadapi bencana itu kuncinya," kata dia.

Terkait dengan peringatan 10 tahun bencana gempa Padang ia mengajak semua kalangan menjadikannya refleksi bahwa pernah terjadi gempa besar di Padang.

"Ini jadi momentum untuk tidak lupa dan terus meningkatkan kesiapsiagaan dan mengambil hikmah dari apa yang pernah terjadi," katanya.

Mitigasi struktural

Pakar Kebencanaan Universitas Andalas (Unand) Padang Dr Badrul Mustafa menilai peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana di Padang sudah cukup baik kendati masih belum sesuai harapan. Ia menilai masih perlu upaya dan percepatan agar jangan sampai terlambat mengingat adanya potensi gempa megathrust dari segmen Siberut.

Ia menyarankan perlu dilakukan upaya meningkatkan mitigasi struktural agar lebih siap menghadapi gempa. Saat ini masih ada ancaman gempa megathrust yang bersumber dari segmen Siberut yang belum mengeluarkan energi, mitigasi struktural penting dilakukan sebagai langkah antisipasi, kata dia.

Menurutnya mitigasi struktural adalah memastikan bangunan terutama yang menjadi tempat berhimpun banyak orang seperti pusat perbelanjaan, sekolah, rumah sakit dan perkantoran ramah dan tahan gempa. Ia menilai bangunan yang dibangun usai gempa 2009 diasumsikan saat ini kondisinya lebih ramah gempa dan memenuhi standar karena sudah ada kepedulian akan pentingnya konstruksi yang kuat.

Akan tetapi bangunan yang sudah ada sebelumnya dan saat gempa 2009 masih kokoh perlu dilakukan penilaian ulang apakah kekuatannya masih layak, kata dia. Penilaian ulang perlu dilakukan oleh pakar bidang sipil sehingga bisa memetakan bangunan yang masih aman dan yang perlu diperkuat hingga dibangun ulang, katanya.

Kemudian terkait dengan keberadaan tempat evakuasi sementara seandainya tsunami datang perlu ditambah jumlahnya. Ke depan bentuknya harus berbeda dengan empat bangunan yang sudah ada saat ini, kata dia.

Ia menilai empat tempat evakuasi sementara yang ada saat ini fungsinya kurang maksimal karena hanya dikhususkan dipakai saat evakuasi saja. Sedangkan untuk sehari-hari tidak terpakai, ke depan bisa dibuat bangunan yang bermanfaat misalnya kantor pemerintah seperti camat atau lurah yang berada di zona rawan tsunami diperbaiki dan dijadikan tempat evakuasi sementara, ujarnya

Jadi selain memberikan rasa nyaman kepada pegawai yang bekerja juga menjadi tempat evakuasi sementara bagi warga sekitar, katanya lagi.

Tidak ada seorang pun ingin terjadi bencana. Sebab itu perlu kesiapan menghadapinya jika ingin selamat mengingat bencana merupakan siklus yang selalu berulang dalam kehidupan manusia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA