Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Sains Penting dalam Mitigasi Bencana Alam Indonesia

Kamis 03 Okt 2019 14:50 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Gita Amanda

Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan water bombing pada kebakaran hutan di kawasan Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (1/10/2019).

Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan water bombing pada kebakaran hutan di kawasan Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (1/10/2019).

Foto: Antara/Bayu Pratama
Indonesia jadi negar yang dapat predikat sebagai laboratorium bencana dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dan pengurangan risiko bencana perlu terus ditingkatkan. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk wilayah rawan bencana, bahkan beberapa negara lain memberikan predikat sebagai laboratorium bencana dunia, karena hampir semua bencana alam telah dialami oleh Indonesia.

Beragam dampak yang dtimbulkan oleh bencana alam yang pada umumnya cukup besar nilai kerugiannya, baik dari aspek korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, aspek ekonomi maupun dampak psikologi. Kehadiran pemerintah sangat penting dalam mitigasi penanganan pascabencana secara integratif agar dapat mengurangi dampak yang terjadi.

Dalam rangka menumbuhkan budaya siaga terhadap bencana, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka menyelenggarakan Seminar Nasional Tahunan, Matematika, Sains dan Teknologi mengusung tema 'Peran Matematika, Sains dan Teknologi dalam Kebencanaan,' sebagai sarana memfasilitasi para akademisi dan praktisi berbagi pengalaman dan pemikiran sesuai dengan bidang keahliannya serta ajang untuk diseminasi hasil penelitian dan kegiatan ilmiah peserta seminar.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Ojat Darojat, M. Bus, PhD dalam sambutannya menyampaikan mitigasi bencana kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan. "Aktivitas meminimalisir risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan berkelanjutan secara nasional. Tanpa merujuk semua aktivitas tersebut maka dampak becana akan senantiasa menimbulkan korban jiwa maupun kerugian ekonomi yang besar," ujar Rektor dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (3/10).
 
Dalam kegiatan ini didesiminasikan hasil-hasil kolaborasi antara para akademisi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis dalam mengembangkan program-program inovatif yang sejalan dengan perkembangan teknologi terbaru yang dapat mendukung mitigasi dan pascabencana.

Kegiatan nasional ini dihadiri oleh pembicara Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kominfo Ahmad M Ramli, Kepala Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikora Karnawati, dan Dr. Ir. Surono yang merupakan Ahli Geofisika dan Vulkanologis sebagai Anggota Dewan Riset Nasional, Komisi Teknis Lingkungan Hidup dan Kebencanaan, Kemenristekdikti.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA