Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Saturday, 23 Jumadil Awwal 1441 / 18 January 2020

Sidang Kabinet Terakhir, Jokowi: PR Masih Banyak

Jumat 04 Oct 2019 07:57 WIB

Red: Budi Raharjo

Presiden Jokowi memimpin sidang kabinet paripurna terakhir untuk pemerintah periode 2014-2019, Kamis (3/10).

Presiden Jokowi memimpin sidang kabinet paripurna terakhir untuk pemerintah periode 2014-2019, Kamis (3/10).

Foto: Republika/Sapto Andiko Condro
Sektor ekonomi disebut menjadi yang terberat dalam lima tahun kepemimpinan Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin sidang kabinet paripurna terakhir pada periode pemerintahan 2014-2019. Dalam sidang yang diadakan di Istana Negara, Kamis (3/10) siang, Jokowi menyinggung soal pencapaian dan program yang belum terselesaikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Jokowi mengaku bersyukur karena dalam lima tahun terakhir banyak hal yang dicapai pemerintah di tengah berbagai keterbatasan. "Saya juga melihat masih banyak pekerjaan-pekerjaan rumah yang belum bisa kita selesaikan," kata Jokowi dalam sambutannya. Sidang kabinet paripurna dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan seluruh menteri Kabinet Kerja.

Menurut Jokowi, penguatan di bidang pemonitoran dan pengendalian program kerja sudah dilakukan dengan baik. Ia berharap kecepatan dan efisiensi dalam mengeksekusi program kerja bisa dipertahankan. Ia pun meyakini dalam lima tahun terakhir telah berhasil membangun fondasi bagi arah pembangunan nasional yang merata.

"Kita meletakkan fondasi bagi pembangunan Indonesiasentris, bukan Jawasentris dalam melakukan percepatan pembangunan di bidang infrastruktur," katanya. Selain itu, Jokowi menyebut, pemerintah sukses melakukan reformasi fiskal sehingga APBN Indonesia lebih sehat dan mandiri.

Sementara dalam hal reformasi struktural, Jokowi mengakui, kebijakan ini belum dijalankan secara besar-besaran. Ia berharap dalam pemerintahan lima tahun selanjutnya, reformasi struktural dilakukan lebih masif demi menaikkan daya saing. Caranya, ujar dia, dengan memangkas aturan dan prosedur yang dianggap menghambat investasi.

Pemerintah saat ini masih mengejar penyelesaian pembahasan omnibus law yang menyangkut investasi. Pemerintah mencoba memangkas aturan-aturan lama yang diyakini menyusahkan investor dalam membuka usahanya di Indonesia.

Jokowi menekankan, program kerja pemerintah selanjutnya lebih berfokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Meski demikian, ia menjamin pembangunan infrastruktur yang telah dilakukan secara besar-besaran sejak 2014 tetap dilanjutkan.

"Pemerataan dan kualitas pendidikan yang sudah disusun bisa kita lanjutkan. Juga program latihan kewirausahaan yang dimiliki masing-masing kementerian lembaga bisa disinergikan," katanya.

Jokowi mengingatkan, sejak awal Kabinet Kerja terbentuk, dirinya selalu menekankan tidak ada visi dan misi menteri, tapi yang ada hanya visi misi presiden dan wakil presiden. Menurut dia, pesan yang kerap ia sampaikan tersebut demi mewujudkan pemerintahan yang memiliki satu visi dan misi yang sama dan tidak bercabang.  

Dalam sidang kabinet tersebut, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada para menteri yang telah membantunya. "Saya ingin ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua menteri dan kepala lembaga atas kerja kerasnya selama lima tahun ini dalam membantu saya dan Pak Jusuf Kalla menjalankan visi dan program prioritas kita bersama," ujar Jokowi.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA