Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Saturday, 14 Rabiul Awwal 1442 / 31 October 2020

Forum OSIS: Demo Langkah Awal Tunjukkan Eksistensi Pelajar

Jumat 04 Oct 2019 14:52 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Massa aksi pelajar STM saat terlibat bentrok dengan polisi ketika melakukan aksi unjuk rasa tolak UU KPK hasil revisi dan RKUHP di Jalan Layang Slipi, Petamburan Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Massa aksi pelajar STM saat terlibat bentrok dengan polisi ketika melakukan aksi unjuk rasa tolak UU KPK hasil revisi dan RKUHP di Jalan Layang Slipi, Petamburan Jakarta, Rabu (25/9/2019).

Foto: Republika
Forum OSIS DKI sebut demo jadi momen pelajar untuk kembali didengar oleh negara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Forum OSIS DKI Jakarta Alvinaldy Fitrah mengharapkan agar pelajar Indonesia menggunakan momentum aksi pelajar sebagai langkah awal menunjukkan eksistensi pelajar untuk berpendapat di ruang publik. Ia mengatakan bahwa pelajar juga punya hak-hak politik dan suara.

"Ini merupakan momentum bagi pelajar untuk kembali didengar oleh negara," kata Alviandy saat mengikuti acara "Santuy (Banget)" di area Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat.

Alvinaldy pun mengungkapkan harapannya agar tidak ada lagi pemisahan antara STM, SMK, dan SMA atau pun pendidikan menengah atas sederajat. Ia mengharapkan semakin banyak kegiatan positif yang dilakukan oleh pelajar-pelajar Indonesia sehingga stigma negatif masyarakat tentang pelajar yang anarkistis tidak terjadi lagi.

"Agar masyarakat luas memandang pelajar bukan cuma turun ke jalan saja dan demonstrasi. Tapi ada juga pelajar yang bersatu. Kami melakukan aksi secara damai," ujarnya.

Alvinaldy mencontohkan salah satu kegiatan yang positif adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan dan ketertiban sosial. Forum OSIS DKI Jakarta termasuk ke dalam bagian kelompok Aktivi (Z) yang terdiri dari pelajar-pelajar SMA yang mengikuti kegiatan bertajuk aksi "Santuy (Banget)" untuk membersihkan coretan-coretan yang tersisa di fasilitas publik pascademo ricuh lalu.

Para peserta aksi ini menilai kegiatan mengecat tembok yang penuh coretan pascademo itu merupakan cara mereka mengekspresikan pendapat mereka sebagai masyarakat Indonesia.

"Iya ini salah satu bentuk kita juga buat tunjukkan aspirasi kita, kita sih sukanya aksi yang 'santuy'," kata salah satu peserta aksi 'Santuy (Banget)' bernama Karlo saat ditemui di lokasi yang akan mereka cat. "Santuy" berarti santai dalam bahasa pergaulan.

Mereka belum bersedia merinci, jumlah anggaran yang disiapkan untuk melakukan kegiatan itu, seperti untuk pembelian cat dan lainnya. Sumber dananya juga belum diungkap.

Aksi demo yang berakhir ricuh di depan DPR meninggalkan banyak kerusakan fasilitas umum, termasuk coretan di tembok- tembok dekat dengan jalan utama yang sering dilewati kendaraan umum. Contohnya seperti coretan di tembok bekas pembangunan monorail di Jalan Asia Afrika banyak yang tercoret dengan tulisan "Save KPK" ataupun "DPR 4.0".

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA