Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Banyak Peristiwa Sejarah Luput dari Perhatian Pendidik

Ahad 06 Oct 2019 15:48 WIB

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq

 Pengunjung menyaksikan pameran sejarah yang digelar dalam rangka Festival Sejarah Kabupaten Semarang 2019, di Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat (Fort Willem II) di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Pengunjung menyaksikan pameran sejarah yang digelar dalam rangka Festival Sejarah Kabupaten Semarang 2019, di Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat (Fort Willem II) di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Foto: Bowo Pribadi.
Festival Sejarah memiliki manfaat besar untuk menambah wawasan dan pengetahuan..

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menyimpan banyak peninggalan, catatan, maupun peristiwa sejarah. Baik sejarah masa kerajaan Hindu kuno, sejarah masa penjajahan Belanda, sejarah pendudukan Jepang, hingga sejarah untuk mempertahankan kemerdekaan.

Sehingga tak sedikit pula peninggalan, catatan, maupun peristiwa bersejarah di Kabupaten Semarang yang luput dari perhatian masyarakat umum, tak terkecuali para pendidik yang ada di daerah ini.

Setidaknya, ini terungkap dalam pembukaan Festival Sejarah Kabupaten Semarang 2019, yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA, di Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat (Fort Benteng Willem II) Ungaran, Kabupaten Semarang.

Salah satu pengunjung, Krisnawati mengaku, ternyata ada banyak catatan dan peristiwa sejarah yang selama ini belaum banyak diketahuinya, walaupun itu ada di wilayah atau daerahnya sendiri.

Berbicara peninggalan, catatan, dan peristiwa sejarah yang ada di Kabupaten Semarang ini, tentu orang akan mudah menyebut Candi Gedongsongo, Palagan Ambarawa, atau Benteng Pendem. “Setelah melihat festival sejarah ini, ternyata banyak yang luput dari perhatian,” katanya, di sela menyaksikan pameran sejarah di arena festival ini.

Misalnya di Ambarawa pernah menjadi salah satu kolasi kerja paksa dan juga menjadi kamp interniran terbesar bagi perempuan dan anak-anak Belanda dan Eropa pada masa pendudukan Jepang. Atau di Fort Willem II tempat digelarnya festival sejarah ini juga masih ada peninggalan berupa sebuah kamar yang dahulu digunakan sebagai transit saat Pangeran Diponegoro akan diasingkan ke luar Jawa.

Pengajar di SMPN 1 Suruh ini menambahkan, kegiatan seperti Festival Sejarah memiliki manfaat yang cukup besar untuk menambah wawasan serta pengetahuan tentang sejarah yang ada di daerahnya. Karena masyarakat maupun para pendidik bisa tahu lebih banyak mengenai peninggalan maupun peristiwa bersejarah yang pada zamannya pernah terjadi atau berlangsung di Kabupaten Semarang ini.

Tanpa ada kegiatan semacam ini, masyarakat umum, termasuk warga Kabupaten Semarang, mungkin tak akan pernah mengetahui peristiwa penting yang pernah terjadi dalam perjalanan sejarah di negeri ini. “Ini bagus sebagai media menambah wawasan sejarah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Semarang, Sukaton Purtomo Priyatmo mengungkapkan, kegiatan Festival ini cukup penting untuk membangkitkan kecintaan terhadap sejarah dan budaya yang ada di kabupaten Semarang.

Khususnya bagi guru, baik guru SMP maupun SMA dan SMK. Walaupun ini yang menyelenggarakan adalah MGMP SMA, yang menjadi kewenangan provinsi, namun bisa membangkitkan para pengajar SMP di Kabupaten Semarang untuk menggali dan mendalami lebih jauh sejarah yang ada di Kabupaten Semarang ini.

Apalagi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang juga tengah berupaya bisa memiliki museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Sebab beberapa benda bersejarah dari Kabupaten Semarang selama ini tersimpan di museum yang ada di Semarang.

Dalam waktu dekat, Kabupaten Semarang juga akan mewujudkan Museum Pandanaran di Kecamatan Tuntang. Fasilitas museum ini selain menyimpan juga akan menjelaskan sejarah masa lalu bagaimana Kabupaten Semarang ini berdiri.

Sehingga pemerintah daerah lewat Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Semarang sangat mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan Festival Sejarah Kabupaten Semarang 2019.

“Sehingga, harapannya akan semakin menggugah teman-teman pemerhati, pegiat, dan pelestari sejarah akan semakin bersemangat untuk menggali berbagai sejarah yang ada di Kabupaten Semarang,” tambah Sukaton.

Sementara itu, usai pembukaan para tamu undangan juga berkesempatan untk berkeliling melihat pameran sejarah yang ada di lantai satu dan lantai dua Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat tersebut.

Pameran ini menampilkan beberapa foto dan catatan dari peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Kabupaten Semarang. Bahkan beberapa di antaranya merupakan peristiwa yang selama ini belum banyak diketahui umum.

Seperti peristiwa tertembaknya Letkol Isdiman yang menjadi titik awal terjadinya Serangan Umum Ambarawa atau yang lebih dikenal dengan Palagan Ambarawa, Peristiwa Lemah Abang, serta Perebutan Banyubiru.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA