Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

24 SMA di Jabar Ikuti Program Sekolah Ramah Anak

Ahad 06 Oct 2019 22:57 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Friska Yolanda

Ilustrasi siswa bermain

Ilustrasi siswa bermain

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Program ini mendorong pemenuhan hak dan perlindungan terhadap anak.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebanyak 48 pelopor Kolase bangsa dari 24 SMA Jabar bersama 48 guru agama Islam siap menerima Tantangan 40 Hari Gembira Belajar di Luar Kelas Menuju Sekolah Ramah Anak, Ahad (6/10). Kegiatan tersebut, merupakan bagian dari Gerakan Sekolah Ramah Anak.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip), Yanti Sriyulianti, program tersebut digelar di SMA 1 Bandung. Selain di Bandung, sebanyak 67 madrasah di Kabupaten Sukabumi pun sudah ramah anak. Selain itu, ada 16 Taman Bacaan Masyarakat di Kabupaten Garut dan 17 SMP Ramah Anak serta SMK Mitra Industri di Kabupaten Bekasi akan menerima wakaf buku tebar ilmu (WBTI) ensiklopedia lintas sejarah Indonesia (ELSI) pada bulan Oktober 2019. 

Gerakan Sekolah Ramah Anak, kata Yanti, merupakan upaya mendorong pemenuhan hak dan perlindungan anak di satuan pendidikan dari ancaman bencana alam, konflik, radikalisme, ekstrimisme, intoleran, kekerasan, dan perlakuan salah lainnya terhadap anak. Gerakan ini dilakukan melalui Tantangan 40 Hari Gembira Belajar di Luar Kelas yang dilaksanakan Sandi Kerlip Institute ini. 

"Kami berharap, program ini dapat menjangkau sedikitnya 75 persen satuan pendidikan di Jawa Barat untuk mendorong peserta didik berikrar Speaknact  atau Saya Pelajar Antikekerasan dan Amat Cinta Tanah Air," ujar Yanti.

Speaknact diikrarkan pada Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019 di sekolah/madrasah masing-masing. Lalu, mengikuti kampanye global sehari gembira belajar di luar kelas menuju Sekolah Ramah Anak pada 7 November 2019. Sehingga, melahirkan anak perempuan calon ecosocpreneur serta guru agama yang moderat, inovatif, inspiratif, dan santun.

Menurut Yanti, dalam menjalankan program ini, ia menjalin kemitraan dengan Komunitas Alumni Perguruan Tinggi, Sandi Kerlip Institute, Gerakan Indonesia Pintar, Binar Pustaka, Sigap Kerlip Indonesia, Bandung Santun, Kementerian PPPA,  Kemenag, dan Dinas Pendidikan Jawa Barat. Agar, tujuan program untuk membangun budaya literasi dalam upaya penguatan pendidikan karakter bangsa di Jawa Barat bisa tercapai.

"Kami juga memfasilitasi 48 pelajar SMA yang didaulat menjadi pelopor komunitas literasi sejarah (kolase) bangsa," katanya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA