Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Senin, 22 Safar 1441 / 21 Oktober 2019

Berbagai Kesepakatan Diraih pada SOMS-9

Senin 07 Okt 2019 21:32 WIB

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Gita Amanda

Sesmempora, Gatot S Dewabroto menghadiri the 9th ASEAN Senior Officials Meeting On Sports (SOMS-9) yang berlangsung di Manila, Senin (7/10).

Sesmempora, Gatot S Dewabroto menghadiri the 9th ASEAN Senior Officials Meeting On Sports (SOMS-9) yang berlangsung di Manila, Senin (7/10).

Foto: Kemenpora
Indonesia mendapat dukungan penuh bidding Piala Dunia U-20 tahun 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Hari pertama the 9th ASEAN Senior Officials Meeting On Sports (SOMS-9) yang berlangsung di Manila, Senin (7/10), telah menghasilkan sejumlah kesepakatan.

Pertemuan ini akan berlanjut hingga 8 Oktober 2019. Kemudian, pada 9 Oktober 2019 berlanjut untuk tingkat the 5th ASEAN Ministerial Meeting (AMMS-5). Seluruh negara-negara anggota ASEAN hadir dalam pertemuan SOMS-9 termasuk juga delegasi dari Sekretariat ASEAN.

Adapun hal penting yang dibahas dan disepakati dalam pertemuan tersebut antara lain tentang pencalonan diri sebagai co-host Piala Dunia FIFA 2034. Meskipun Indonesia melalui PSSI telah mengusulkan diri bersama Australia, ASEAN saling mengingatkan diri, bahwa the Chairman’s Statement of the 34th ASEAN Summit on the development of a joint bid to host the FIFA World Cup sudah menyatakan tentang kebersamaan ASEAN untuk tetap mencalonkan diri bagi bidding tersebut.

"Kesimpulannya jangan sampai mengecilkan kesepakatan ASEAN, tidak mungkin seluruh negara ASEAN menjadi lokasi pertandingan (maksimal mungkin 3 negara), masing-masing negara ASEAN harus melakukan koordinasi dengan federasi sepakbolanya, dan ASEAN harus memanfaatkan momentum giliran kawasan Asia di tahun 2034 dengan maksimal, karena jika tidak akan jatuh pada Cina," kata Sesmempora, Gatot S Dewabroto seperti dikutip laman resmi Kemenpora, Senin (7/10).

Sementara mengenai Piala Dunia U-20 2021, seluruh negara ASEAN mendukung sepenuhnya pencalonan Indonesia untuk bidding. Penentuannya akan dilakukan pada tanggal 23 atau 24 Oktober 2019 menghadapi Brazil dan Peru. Selain itu, ASEAN juga mendukung sepenuhnya inisiatif Malaysia untuk membentuk Federasi eSport Asia Tenggara. Hal ini disepakati dengan pertimbangan bahwa perkembangan eSport kini telah menunjukkan indikasi yang signifikan di banyak negara.

"Termasuk juga karena saat Asian Games 2018 telah mempertandingkan eSport meski masih sebatas eksibisi, dan kemudian akan dipertandingkannya eSport sebagai salah satu cabang olah raga pada saat SEA Games 2019 di Filipina," lanjut dia.

Pada forum tersebut juga diambil kesepakatan tentang penyelenggaraan ASEAN Sport Day cukup menjadi bagian dari ASEAN Day yang selalu diperingati setiap 8 Agustus. Dalam perkembangannya, saat pembahasan tentang ASEAN Sports Day Commemoration 2019, hampir seluruh negara ASEAN telah melaporkan kegiatan masing-masing yang telah dilakukan pada 8 Agustus 2019 atau minimal pada Ahad terdekat. Selain itu, ada gagasan untuk membentuk ASEAN Center of Excellence on Sport Management and Training.

Namun, meski bagus gagasan itu tidak bisa sepenuhnya diterima kecuali dalam bentuk ASEAN Coaching Activities pada pembinaan pelatih-pelatih untuk cabang-cabang olahraga tertentu yang khusus menangani talenta atlet-atlet muda. "Misalnya, Indonesia unggul di bulutangkis bisa dijadikan rujukan untuk mengadakan coaching kllinik bagi para pelatih yang dikirimkan dari negara-negara ASEAN lainnya sesuai dengan anggaran masing-masing. Dan demikian pula dengan keunggulan negara-negara ASEAN lainnya," kata Gatot.

Di samping itu, sejumlah action plan yang harus ditindak lanjuti dari SOMS dan AMMS pada kenyataannya memerlukan anggaran, terkecuali yang ditanggung oleh negara yang mengambil inisiatif kegiatannya. Namun ketika membahas masalah ASEAN Sports Fund, ternyata belum ada kata sepakat, karena masing-masing negara harus berkonsultasi dengan Kementerian Keuangan masing-masing. Sebagai informasi perbandingan, pada sektor-sektor lain dalam lingkup kerjasama ASEAN, sudah banyak juga yang sudah memiliki ASEAN Fund. Masalah ini sedang dikaji untuk kemudian dibahas kembali sesuai prasyarat dan kondisinya.

Pembahasan kemudian berkembang menjadi agenda pembahasan masalah cabang-cabang olahraga yang seharusnya dipertandingkan pada SEA Games tahun berikutnya. Seluruh negara ASEAN sepakat untuk berkoordinasi dengan masing-masing NOC (National Olympic Committee) agar pada SEA Games berikutnya hanya konsisten mempertandingkan cabang-cabang olahraga yang berbasis Olimpiade dan untuk itu perlu mengamandemen SEA Games Federation Charter tertentu.

"Seandainya pun ada penambahan cabang olahraga bagi tuan rumah, itu masih dimungkinkan sejauh sangat terbatas jumlahnya dan harus dibicarakan bersama dengan negara-negara ASEAN lainnya," lanjut dia.

Pada pertemuan tersebut, perwakilan ASEAN Para Sport Federation mengusulkan suatu saat perlu diadakannya ASEAN Schools Para Games dan ASEAN Youth Para Games. Hal ini didasarkan pada kondisi yang sudah berlangsung pada SEA Games dengan ASEAN Para Games, lalu Asian Games dengan Asian Para Games serta Olimpiade dengan Paralimpik.

Namun, meski Indonesia setuju dengan gagasan ASEAN Schools Para Games, Indonesia dan hampir semua negara ASEAN memahami kendala yang dihadapi. "Misalnya ASEAN Para Games tidak bisa apple to apple dengan ASEAN Schools Para Games oleh berbagai alasan dan pertimbangan," kata dia.

Mengingat potensinya sebagai bagian untuk mempromosikan olah raga sebagai aktivitas untuk character building, maka UNESCO dan FIFA, serta lembaga The Right to Play telah mendorong ASEAN untuk lebih peduli dalam memanfaatkan aktivitas olah raga. Yakni melalui sejumlah kegiatan tertentu seperti sosial, budaya dan komunal yang tujuan utamanya adalah mendorong ASEAN pada hal-hal positif di luar yang diatur hanya semata-mata mencapai tujuan pencapaian prestasi olahraga saja.

"Banyak contoh nyata sudah dilakukan oleh UNESCO dan FIFA serta juga The Right to Play dalam melakukan kerjasama dengan sejumlah kawasan tertentu, yang telah berhasil efektif minimal untuk mendorong adanya solidaritas, minimum konflik dan public education bagi publik. Dalam konteks ini Sekretariat ASEAN sedang mempersiapkan draft MoU khusus, terutama yang sangat mendesak untuk kerjasama dengan FIFA yang harus ditanda-tangani dalam KTT ASEAN pada November 2019," jelas dia.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA