Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Operator Baru Ditargetkan Tingkatkan Kinerja Bandara Komodo

Selasa 08 Oct 2019 10:23 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Indira Rezkisari

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berpidato pada upacara peringatan Hari Perhubungan Nasional di halaman Kantor Kementerian Perhubungan di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berpidato pada upacara peringatan Hari Perhubungan Nasional di halaman Kantor Kementerian Perhubungan di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Lima hingga enam negara yang mengikuti lelang operator Bandara Komodo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) segera mengumumkan operator internasional yang akan mengelola Bandara Komodo di Labuan Bajo. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pekan ini akan mengumumkan siapa operator Bandara Komodo.

"Mungkin 10 atau 11 Oktober 2019 (pengumuman operator Bandara Komodo)," kata Budi di Gedung BKPM, Senin (7/10).

Budi masih enggan membocorkan siapa yang memenangkan lelang operator Bandara Komodo. Dalam prosesnya terdapat lima hingga enam negara yang mengikuti lelang, beberapa di antaranya seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia.

Sebelumnya, Budi mengungkapkan sudah mengantongi pemenang lelang operator Bandara Komodo. "Sekarang sudah ada pemenangnya tapi saya belum bisa menyampaikan, sedang finalisasi," kata Budi saat berbincang dengan Republika.co.id di ruang kerjanya akhir pekan lalu.

Dengan begitu, Budi memastikan tahun ini akan memperkerjasamakan Bandara Komodo dengan operator internasional. Budi mengharapkan nantinya layanan di bandara tersebut akan meningkat.

Selain itu, Budi menuturkan kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) pada pengelolaan Bandara Komodo akan menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Pemerintah (APBN). "APBN tidak banyak keluar dan masyarakat puas. Tapi kami punya peran bandara perintis lebih intens jaminan keselamatan dan pelayanan," jelas Budi.

Meskipun akan dikelola oleh operator internasional, Budi memastikan porsi Indonesia akan lebih besar. Dia menegaskan swasta Indonesia tetap memiliki saham 51 persen dan swasta asing yang menjadi operatornya memiliki saham 49 persen.




Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA