Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

DKM: Al Falah Justru yang Selamatkan Ninoy Karundeng

Kamis 10 Oct 2019 00:02 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Teguh Firmansyah

Kondisi Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat pada Rabu, (9/10). Masjid itu jadi buah bibir lantaran diduga jadi lokasi pemukulan, penyekapan hingga persekusi terhadap Ninoy Karundeng. 

Kondisi Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakarta Pusat pada Rabu, (9/10). Masjid itu jadi buah bibir lantaran diduga jadi lokasi pemukulan, penyekapan hingga persekusi terhadap Ninoy Karundeng. 

Foto: Republika/Rizky Suryarandika
Iskandar menegaskan tak ada insiden penyekapan atau penculikan seperti disebut Ninoy.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Falah, Iskandar membantah kabar penyekapan dan intimidasi terhadap Ninoy di dalam Masjid. Iskandar menyatakan pemukulan dilakukan oleh oknum massa di luar Masjid yang berada di Pejompongan, Jakarta Pusat itu.

Iskandar menceritakan saat terjadi aksi unjuk rasa pada 30 September, Masjid Al Falah jadi posko medis bagi massa pendemo. Ruangan dalam Masjid tak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, melainkan ruang perawatan pendemo yang terluka. "Saat itu, ada relawan medis yang stand by di dalam Masjid guna membantu siapapun yang terluka," ujarnya.

Suasana sekitar Masjid, kata Iskandar, dikerumuni oleh massa pendemo sekitar pukul 20.00 WIB. Ada juga pendemo yang beristirahat di depan Masjid karena tak kebagian di bagian dalam.

Iskandar menyaksikan, warga sekitar masjid tak tinggal diam melihat adanya pendemo yang terluka. Warga turut membantu pendemo menggunakan apa saja. Bahkan ada yang mengeluarkan tabung gas oksigen dari rumah untuk membantu pendemo yang sesak nafas. Masjid itu sendiri berada di kawasan pemukiman menengah ke atas. Sebagian rumah di sekitar Masjid bertingkat seperti halnya bangunan Masjid.

Dalam kondisi chaos itu, ia mengakui ada insiden pemukulan pada Ninoy. Namun ia tak tahu siapa dan atas alasan apa pemukulan itu terjadi. Ia menegaskan pemukulan hanya terjadi di luar sampai batas pagar Masjid. Ninoy lalu diselamatkan ke dalam Masjid guna menghindari aksi pemukulan terus terjadi.

"Pengurus Masjid tak terlibat pengeroyokan bahkan kita mengamankan kok. Masuk ke Masjid tidak ada pemukulan. Kalau pun ada, saya enggak tahu. Itu kewenangan polisi cari tahu termasuk cari tahu siapa yang videokan," katanya pada Republika.co.id, saat diwawancara di Masjid Al Falah, Rabu (9/10).

Pernyataan itu sekaligus membantah kabar pengurus Masjid merekam Ninoy yang kemudian viral di media sosial. Video viral berdurasi sekitar 5 menit itu dianggap bentuk intimidasi pada Ninoy. Sepanjang video, Ninoy ditanyai oleh orang yang tak menyebut identitasnya.

Iskandar menekankan tak ada insiden penyekapan dan penyulikan sebagaimana dinyatakan Ninoy di Polda Metro Jaya. Sepanjang pengetahuannya, ia tak menyaksikan adanya persekusi pada Ninoy di dalam Masjid. Masjid justru menyelamatkan Ninoy dari amukan massa.

Adapun mengenai pemulangan Ninoy yang ditunda hingga pagi, menurutnya wajar. Mengingat saat itu dikhawatirkan masih ada oknum yang akan mengeroyok Ninoy.
"Kalau diculik kan diambil secara paksa, ini kan disitu di dalam masjid, lebih tepat diselamatkan. Kalau dia mau pulang cepat tentu nunggu situasi (takut terjadi pemukulan lagi)," ujarnya.

Iskandar hanya berada di Masjid hingga pukul 23.00 WIB. Ia memilih pulang karena khawatir terkena gas air mata dengan makin chaosnya situasi.

Ninoy sendiri pulang dari Masjid sekitar pukul 07.00 WIB. Selama sekitar 11 jam di Masjid, Ninoy disebut mendapat perawatan medis, diberi makan dan minum hingga tidur disana. "Dia pulang jam 7 pagi. Disini dirawat dan tidur di dalam, dia dapat makan dan minum disini juga," ungkapnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus penculikan dan penganiayaan pegiat media sosial Ninoy Karundeng. Sebanyak 12 tersangka sudah ditahan dan satu orang ditangguhkan penahannya karena alasan kesehatan.

Salah satu tersangka yang baru ditetapkan adalah Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212, Bernard Abdul Jabbar. Bernard diduga ikut mengintimidasi Ninoy saat terjadinya penculikan dan penganiayaan pada 30 September lalu.

Ninoy Karundeng, pada Senin (7/10), menceritakan kronologi penculikan dan penganiayaan terhadap dirinya yang terjadi di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat pada 30 September lalu. Ninoy menuturkan, peristiwa itu bermula ketika dirinya merekam aksi unjuk rasa di wilayah tersebut.

Tiba-tiba, sejumlah orang tidak dikenal menyeret dan membawanya masuk ke dalam Masjid Al-Falah di daerah Pejompongan. Sekelompok orang itu menginterogasi dan menganiaya Ninoy di dalam masjid. Sebelum dibawa masuk ke dalam masjid, ia juga dianiaya di luar masjid selama dua menit.

Bahkan, sambung Ninoy, dia juga mendapat ancaman pembunuhan dari seseorang yang dipanggil 'Habib'. Dia pun berusaha meminta perlindungan dan memohon agar dibebaskan dengan alasan memiliki keluarga yang masih membutuhkannya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA