Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Pemerintah Dorong Penyintas Kembali ke Wamena

Kamis 10 Oct 2019 08:18 WIB

Red: Budi Raharjo

Sejumlah pengungsi mengangkat barang bawaannya ketika tiba dengan menumpang pesawat Hercules TNI AU di Bandar Udara Wamena, Papua, Rabu (9/10/2018).

Sejumlah pengungsi mengangkat barang bawaannya ketika tiba dengan menumpang pesawat Hercules TNI AU di Bandar Udara Wamena, Papua, Rabu (9/10/2018).

Foto: Antara/HO/Achmad Sugito
Pemerintah merasa kondisi keamanan di Wamena sudah berangsur kondusif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui TNI terus mendorong para penyintas kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, yang tengah mengungsi untuk kembali di daerah tersebut. Sejumlah pengungsi warga pendatang di Sentani, Jayapura, yang merasa dijanjikan pulang ke kampung halaman mengklaim sempat ditahan, kemarin.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan, TNI telah menyiagakan tiga pesawat Hercules di Jayapura untuk memberangkatkan penyintas kembali ke Wamena. "Alutsista yang digunakan untuk mendukung pengungsi adalah Hercules C-130 dan helikopter milik TNI,” ujar Hadi Tjahjanto di sela mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto saat mengunjungi pengungsi di Posko Pangkalan Udara (Lanud) Silas Papare, Sentani, Jayapura, Papua, Rabu (9/10).

Hadi mengklaim pemulangan itu karena pemerintah merasa kondisi keamanan di Wamena sudah berangsur kondusif. “Untuk pengungsi yang berada di Ilaga akan kita gunakan helikopter, di mana nanti akan berangkat dari Timika. Sedangkan, yang berada di Merauke akan kita dukung Hercules untuk kembali ke Wamena,” kata Panglima TNI. Panglima TNI menegaskan, TNI dan Polri akan tetap menjaga stabilitas keamanan di wilayah Wamena, termasuk kabupaten sekitarnya di Oksibil serta Ilaga.

Sementara itu, sejumlah pengungsi mengklaim rencana pemulangan sekitar 1.200 pengungsi dari Jayapura ke Sulawesi dan Pulau Jawa tiba-tiba dibatalkan, kemarin. Indira Kasim, koordinator Relawan Bijotoluwu, paguyuban masyarakat asal Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel), di Jayapura, mengatakan, sebelumnya sudah ada kesepakatan antara pemerintah daerah masing-masing wilayah dan pemerintah pusat untuk memfasilitasi para korban yang ingin pulang kampung sementara.

“Tadi kami sudah siap-siap untuk berangkat ke syahbandar (pelabuhan) di Jayapura. Tetapi, tiba-tiba ada informasi pembatalan,” kata Indira saat ditemui Republika di posko pengungsian warga Palopo, di Sentani, Rabu.

Indira mengatakan, koordinasi antara kordinator relawan dan pejabat di otoritas pelabuhan Jayapura mengungkapkan, pembatalan memulangkan para pengungsi tersebut terkait perintah dari Jakarta yang meminta para warga pendatang kembali ke Wamena.

Baca Juga

photo
Sejumlah prajurit TNI dan Polri melakukan patroli dengan menaiki mobil bak terbuka ketika melintas di Jalan Trans-Papua Pikhe, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (9/10/2019).


Rabu pagi sekitar pukul 06.00 WIT, di Jalan Kemiri, Sentani, persisnya di salah satu ruko pusat perbelanjaan Borobudur, berkumpul sekitar 400-an warga asal Palopo, Sulsel. Tempat itu satu dari tujuh titik pengungsian korban kerusuhan Wamena yang ada di Sentani.

Di tempat itu, kebanyakan para ibu, pemuda, serta anak-anak dan bayi. Rencananya, sekitar 263 di antara mereka bagian dari 1.200 orang yang akan diberangkatkan pulang serempak bersama para pengungsi dari titik lainnya ke kampung halaman masing-masing.

Pemulangan direncanakan lewat jalur laut menggunakan KM Sinabung milik PT Pelni. Menjelang jadwal pemulangan itu, keriangan tampak di antara para pengungsi. Mereka sudah dua pekan lebih terkatung-katung di penampungan.

Sebelum berangkat, para pengungsi, khususnya asal Kabupaten Luwu, Palopo, mendapatkan uang saku dari pemerintah daerahnya untuk bekal selama perjalanan pulang kampung. Sekitar pukul 08.00 WIT, setelah pengungsi menaiki dua bus besar dan tiga truk pengangkut barang, tiba-tiba petugas keamanan dari kepolisian dan tentara yang selama ini menjaga posko mereka meminta sopir bus dan truk tak menjalankan kendaraan.

Seorang anggota Babinsa dari Koramil Sentani sempat membisikkan informasi tentang simpang siur kepulangan. Meski ia mendukung rencana pulang kampung para pengungsi itu, ia hanya menjalankan perintah untuk menahan sementara keberangkatan bus dan truk menuju ke Jayapura.

Seorang anggota Sabhara dari Polres Jayapura yang ikut menjaga posko pengungsian tersebut juga mengatakan informasi pembatalan yang sama. “Ini mungkin masih ada salah komunikasi. Kasihan mereka ini kalau tidak jadi (dipulangkan). Sudah naik (bus),” ujar aparat keamanan tersebut. Kepastian pembatalan tiba pukul 11:00 WIT. “Serentak ini dibatalkan. Semua dibatalkan, 1.200 orang dibatalakan.”

Para personel keamanan yang berjaga di posko tersebut pun meminta pengertian para pengungsi untuk tetap sabar karena kabar pembatalan pemulangan itu. Tepat dari waktu yang dijanjikan, para pengungsi yang sudah siap-siap berada dalam bus dan truk untuk diberangkatkan ke Pelabuhan Jayapura akhirnya diturunkan.

“Tolonglah pulangkan kami dulu. Biarlah kami pulang dulu,” kata Isnawati, seorang ibu yang mengungsi bersama empat anak-anaknya. Kata dia, anak-anaknya sudah tak betah di pengungsian dan ingin tidur di rumah.

Di lokasi pengungsian lainnya, di Masjid Raya al-Aqsa, Sentani, terjadi kejadian yang sama. Di titik pengungsian ini, sekitar 145 warga asal Jawa Timur (Jatim) mulanya akan dipulangkan ke kampung halaman. Para pengungsi juga sudah masuk ke dalam bus dan truk untuk berangkat bersama-sama para pengungsi dari titik lainnya menuju Pelabuhan Jayapura. Akan tetapi, kabar pembatalan membuat mereka kembali ke tenda pengungsian.

“Kami sangat kecewa,” kata Suparlin, pengungsi asal Probolinggo. Seperti para pengungsi lainnya, pria berusia 50-an tahun itu mengatakan, pulang kampung akan membuat warga korban Wamena kembali mendapatkan ketenangan sebelum memutuskan merantau kembali ke Wamena.

Selain di posko Palopo dan Masjid Raya al-Aqsa, lokasi pemulangan juga dilakukan dari titik pengungsian di Lanud Silas Papare dengan jumlah 126 orang. Di posko Dunlop, ada sekitar 83 pengungsi dan di posko Sulut sebanyak 120 pengungsi yang akan dipulangkan. Di posko KKSS ada sekitar 122 orang, di rindam sekitar 86 orang, dan posko Batalyon 751 sebanyak 253 pengungsi.

photo
Seorang teknisi berusaha melepas onderdil yang masih bisa digunakan dari mobil yang hangus terbakar pasca unjuk rasa yang berujung anarkis di Jalan Trans Papua Pikhe, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Rabu (9/10/2019).


Imbau pengungsi

Kapendam Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto menyangkal ada upaya menahan pengungsi yang ingin kembali ke kampung halaman. “Tidak ada info seperti itu,” kata dia saat dihubungi Republika, kemarin. Ia menjelaskan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) tak menahan pengungsi, melainkan hanya mengimbau pengungsi yang mesih memiliki keluarga serta usaha untuk penghidupan di Wamena agar kembali ke wilayah tersebut.

Sementara itu, Forkopimda Kabupaten Jayawijaya menyambut kembalinya penyintas yang sebelumnya eksodus. "Hari ini kita lihat ada 87 pengungsi dari Jayapura sudah tiba di Wamena yang dilepas Menko Polhukam dari Jayapura dan kami forkopimda terima di sini," kata Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua di Wamena, kemarin.

Ia mengatakan, sebagian besar dari warga perantau itu berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan. Warga yang rumahnya tidak dibakar akan langsung kembali ke rumah, sedangkan yang rumahnya dibakar akan tinggal sementara di Gedung Tongkonan. Menurut dia, pemerintah menjamin keamanan pengungsi yang kembali.

Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) di Jayawijaya Yohanes Tuku mengatakan, 200 di antara 9.000 warganya yang keluar dari Wamena sudah kembali ke Toraja. "Belum semua warga kembali ke Wamena. Mereka masih melakukan pembicaraan dahulu. Yang sudah kembali, saya belum tahu karena kita harus data dahulu," katanya.

Ia mengakui, ada sebagian warga Toraja yang mengungsi dari Wamena ke Jayapura hendak melanjutkan perjalanan ke Toraja menggunakan kapal laut. "Tetapi, sementara ini masih terus dibicarakan," kata Yohanes. n ronggo astungkoro/bambang noroyono, ed: fitriyan zamzami

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA