Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

UGM Tolak UAS Beri Kuliah Umum, Benarkah Permintaan Alumni?

Kamis 10 Oct 2019 11:37 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Karta Raharja Ucu

Ustaz Abdul Somad (UAS) saat memberikan kajian bersama di halaman Masjid Al-Huda,Talang,Jakarta,Sabtu (24/8) malam.

Ustaz Abdul Somad

Foto:
UGM menolak UAS menjadi pembicara di kuliah umum yang digelar di Masjid Kampus UGM.

Mashuri menerangkan, Takmir Masjid UGM sendiri sudah memenuhi kondisi kondisi yang diminta sebelum mengundang UAS. Mulai dari tidak memakai baliho, spanduk atau banner sampai tidak memakai konsep tabligh akbar.

Ia menjelaskan, konsepnya memang seperti diskusi panel dan terbilang serius, tanpa banyak gelak tawa. Karena itu, Takmir Masjid UGM memang tidak menyebarkan undangan-undangan secara luas.

Walau komunikasi kepada UAS sudah dilakukan sejak 11 September 2019 lalu, kabar itu tidak lantas disebarluaskan. Bahkan, rektorat, dekan, kepala pusat studi lebih dulu disampaikan sebelum ke rekan-rekan takmir.

Itu pula tampaknya yang membuat kesabaran Mashuri sudah mencapai puncak. Sebab, ketika kondisi-kondisi itu sudah dipenuhi, Takmir Masjid UGM tetap diminta membatalkan rencana mendatangkan UAS.

"Tadi saya sudah mengatakan, Pak (Djagal) saya ini orang jujur, saya tidak mau berbohong, dan kali ini kalau misalnya masih dilarang saya tidak akan menutup-nutupi, saya akan bicara ke publik," ujar Mashuri.

Ia menegaskan, Takmir Masjid UGM memang telah mengundang UAS untuk datang. Karenanya, Mashuri mengaku tidak akan pernah membohongi diri mengatakan dia membatalkan karena memang dia tidak mau membatalkan.

"Saya tidak akan membohongi diri saya, kemudian (agar) tidak datang menggunakan alasan macam-macam, ya sudah, karena yang melarang bukan saya," kata Mashuri.

Mashuri Maschab mengungkapkan, ada sejumlah alasan pembatalan kulah umum Ustaz Abdul Somad yang disebut Rektorat. Salah satunya karena sosok UAS yang kontroversial. "Alasan formal yang digunakan itu UAS kontroversial," kata Mashuri saat ditemui Republika di kediamannya di Sleman, Rabu (9/10).

Kemudian, ia menerangkan, ada pula alasan lantaran pada 20 Oktober 2019 akan ada pelantikan Presiden RI 2019-2024. Mashuri sendiri mengaku sudah menjelaskan kuliah umum tidak terkait politik apa pun.

"Saya jelaskan, pak saya itu tidak ada urusan dengan acara politik, tugas saya menyajikan kegiatan-kegiatan yang mencerdaskan ke jamaah saya," ujar Mashuri.

Bahkan, ia mengaku sampai saat ini tidak pernah memikirkan akan ada agenda-agenda politik apa saja. Yang dipikirkan cuma pada 12 Oktober 2019 itu kosong agenda, jadi dipilihlah waktu tersebut.

Namun, Mashuri sendiri tidak terlalu mengerti apa hubungannya kajian yang digelar Masjid Kampus UGM dan pelantikan Presiden RI 2019-2024. Karena itu, ia mengaku heran alasan sebenarnya UAS ditolak.

"Masak kemudian ada orang ngaji kemudian tidak jadi dilantik, menurut saya itu rada," kata Mashuri, yang jawabannya terputus karena harus menerima panggilan masuk ke ponselnya.

Semua alasan itu sendiri didapatkan Mashuri saat penuhi undangan Wakil Rektor Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan, Djagal Wiseso, dan Wakil Rektor Bidang SDM dan Aset, Bambang Agus. Pertemuan dilakukan di kantor Djagal Wiseso pada Rabu (9/10) pagi. Saat itu, Mashuri datang tidak sendiri karena ditemani Wakil Ketua Takmir Masjid Kampus UGM, Zuprizal.

Terkait hal itu, UAS mengaku akan mengikuti permintaan pihak pengundang. Sebab, dirinya dan tim semata-mata bertamu. Sebagai tamu yang baik, tentunya tidak ingin memberatkan tuan rumah.

“Saya ikut panitia saja. Kalau memberatkan, saya tidak datang,” ujar UAS kepada Republika.co.id, Rabu (9/10). Sebelumnya, pimpinan UGM mengonfirmasi rencana pembatalan kuliah umum yang akan dibawakan UAS.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA