Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Erdogan Tampik Kritik Soal Pengerahan Militer ke Suriah

Kamis 10 Okt 2019 19:56 WIB

Rep: Fergi Nadira/Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Foto yang diambil dari sisi Turki di perbatasan Turki-Suriah di Akcakale, Provinsi Sanliurfa menunjukkan asap membumbung usai serangan militer Turki, Kamis (10/10).

Foto yang diambil dari sisi Turki di perbatasan Turki-Suriah di Akcakale, Provinsi Sanliurfa menunjukkan asap membumbung usai serangan militer Turki, Kamis (10/10).

Foto: AP Photo/Lefteris Pitarakis
Dunia mengecam operasi militer Turki di Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- turki dengan marah menolak kritik internasional atas serangannya terhadap milisi Kurdi di Suriah, Kamis (10/10). Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan malah melaporkan kemajuan pasukannya pada hari kedua operasi.

Baca Juga

Komunitas internasional khawatir langkah Turki akan semakin mengganggu kestabilan kawasan itu. Membidik Uni Eropa (UE) dan Arab Saudi serta Mesir, Erdogan mengatakan mereka yang menolak tindakan Turki tidak jujur.

Dia mengancam akan mengizinkan pengungsi Suriah di Turki pindah ke Eropa jika negara-negara UE mendeskripsikan pasukannya sebagai pendudukan. "Mereka tidak jujur, mereka hanya mengarang kata-kata. Namun, kami mengambil tindakan dan itulah perbedaan di antara kami," kata Erdogan merujuk ke Arab Saudi dan Mesir.

Sekutu NATO itu mengatakan bermaksud menciptakan 'zona aman' bagi kembalinya jutaan pengungsi ke Suriah. Namun, dunia khawatir tindakan Turki dapat mengintensifkan konflik, dan menanggung risiko tahanan ISIS yang melarikan diri dari kamp di tengah kekacauan yang terjadi.

Pemimpin dunia, PBB, dan Uni Eropa mengecam Turki yang melancarkan operasi militer terhadap posisi Kurdi di timur laut Suriah. Ankara menargetkan ISIS dan pasukan pimpinan Kurdi yang memegang wilayah di wilayah perbatasan. Turki juga mengakui ingin menciptakan 'zona aman' di mana para pengungsi Suriah dapat pindah tempat tinggal.

Operasi Turki dimulai beberapa hari setelah pasukan Amerika Serikat (AS) mundur dari perbatasan. Anggota senior Partai Republik tempat bernaungnya Presiden AS Donald Trump mengutuknya karena membuat jalan bagi serangan dan meninggalkan Kurdi Suriah, sekutu setia Washington, dalam perang melawan ISIS di Suriah.

"Komando heroik kami yang mengambil bagian dalam Operation Peace Spring terus bergerak maju ke timur Sungai Eufrat (sungai). Target yang ditunjuk disita," cicit Kementerian Pertahanan. 

Otoritas pimpinan Kurdi di Suriah utara mengatakan, satu penjara yang diserang oleh Turki menahan penjahat paling berbahaya lebih dari 60 negara. Serangan Turki terhadap penjara-penjara itu berisiko bencana.

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi menahan ribuan militan ISIS dan puluhan ribu kerabat mereka dalam tahanan. Kendati demikian, belum ada komentar langsung tentang situasi di penjara-penjara dari Turki.

CNN Turk menyiarkan video yang menunjukkan truk derek dalam semalam yang mengeluarkan blok beton dari dinding perbatasan dan pasukan komando bergerak dalam satu barisan di samping penghalang. Di kota perbatasan Turki, Akcakale, sekitar 30 kendaraan membawa pemberontak Suriah. Banyak truk pikap yang dipasangi senjata anti-pesawat melaju di sepanjang jalan utama di sisi perbatasan Turki dari Tel Abyad dari Suriah.

Turki menggelar operasi militer di Suriah utara yang berbatasan dengan negaranya. Mereka ingin menumpas pasukan kurdi yang menguasai wilayah tersebut. Turki menganggap pasukan Kurdi, terutama Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), sebagai pemberontak dan ancaman bagi keamanannya. Ankara memandang YPG sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

PKK adalah kelompok bersenjata Kurdi yang telah melancarkan pemberontakan di Turki tenggara selama lebih dari tiga dekade. Turki telah melabeli YPG dan PKK sebagai kelompok teroris.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA