Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Habibie dan Kenangannya Bagi Republika

Jumat 11 Oct 2019 09:39 WIB

Red: Budi Raharjo

Foto sampul depan Harian Republika edisi wafat dan hari jadi almarhum BJ Habibie

Foto sampul depan Harian Republika edisi wafat dan hari jadi almarhum BJ Habibie

Foto: Kolase Foto Yogi Ardhi
Kelahiran Republika tidak bisa dipisahkan dari sosok Habibie.

REPUBLIKA.CO.ID, Masih teringat jelas di benak Parni Hadi, bagaimana Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie sering meneleponnya pukul 01.00 hingga 02.00 pagi. Wartawan senior itu pun tak pernah melupakan cara BJ Habibie memanggil namanya.

“Beliau orangnya luar biasa, tapi tidak pernah membaca koran. Dia hanya ribut kalau ada orang protes lalu langsung telepon saya ‘Parni....’ pakai bahasa Jerman,” tutur Pemimpin Umum sekaligus Pemimpin Redaksi pertama Republika tersebut saat ditemui di rumahnya pada September lalu.

Dalam suasana santai ia bercerita, kelahiran Republika tidak bisa dipisahkan dari sosok Habibie. Kala itu, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang berdiri pada Desember 1990 memiliki ide tentang perlunya memiliki sebuah koran sebagai wadah aspirasi umat Islam. Saat itu, pers tengah terkendali dan surat izin usaha penerbitan (SIUP) ditutup oleh Presiden Soeharto.

Berkat Habibie sebagai pemimpin ICMI, SIUP khusus Republika bisa dikeluarkan. Akhirnya, edisi perdana Republika pun terbit pada Januari 1993, setelah digodok sejak 1992. Bagi Parni, Habibie bukan hanya Bapak Reformasi atau Bapak Demokrasi, melainkan juga Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia. “Karena dialah pers di Tanah Air bisa berjalan, saya saksi matanya,” ujar dia.

Kenal sejak 1977, Parni menyatakan, hubungannya dengan Habibie bersifat personal, emosional, fenomenal, monumental, serta historikal. Dia bahkan sering berdebat dengan Presiden ke-3 RI itu. “Saya bisa panggil dia ‘Mas Rudi’ karena hubungan saya dengan beliau tidak bersifat struktural. Saya bukan anak buahnya seperti yang lain,” kenang Parni.

Ia mengisahkan, Habibie pernah datang ke rumahnya saat acara lamaran putri Parni. Mewakili Parni, waktu itu Habibie yang pernah menjabat sebagai menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi tersebut memberikan pidato demi menyambut keluarga besan.

“Bukan lagi soal lamaran, beliau malah bercerita tentang teknologi semangat sekali. Pengetahuan beliau memang luas sekali, jadi kalau tidak dipotong tidak akan berhenti, tapi karena itu di rumah saya, tidak saya potong,” tutur sosok kelahiran Madiun, 13 Agustus 1948 lalu ini.

Menurut Parni, pribadi seperti Habibie jarang ditemukan. Pria yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, itu tak hanya mempunyai intelligence quotient (IQ) tinggi, tetapi juga emosi, semangat, energi, serta hati nurani tinggi.

“Jika Anda memiliki setidaknya IQ tinggi, emosi tinggi, dan semangat tinggi, maka Anda genius. Mengapa? Karena, seorang genius energinya tidak pernah habis, fisiknya kuat,” ujar Parni. Walau demikian, Parni menegaskan, Habibie tetap manusia biasa yang tak sempurna.

Dia bercerita, suatu hari pernah diajak ke sebuah acara di Turki, semua orang di sana terus meneriakkan kata ‘mujahid’ seraya bertepuk tangan. “Beliau lalu tanya saya, ‘Parni mujahid artinya apa?’ Saya jawab mujahid itu pejuang,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika tersebut menuturkan, banyak sekali kenangan pribadinya dengan tokoh yang dikenal sebagai pembuat pesawat pertama di Tanah Air itu. Tak jarang pula, ia makan bersama Habibie dan Ainun pada satu meja.

Ketika sudah bertemu, Parni dan Habibie selalu membahas apa saja. Bahkan, Parni mengaku Ainun sempat melontarkan pernyataan untuk menggambarkan kekariban Habibie dan Parni. “Mbak Ainun sampai bilang, kalau dua orang ini sudah bertemu, susah dipisah,” ujar Parni bercerita.

Baca Juga

photo
BJ Habibie (Foto: Yogi Ardhi/Republika)


Habibie baginya sudah seperti kakak, mentor, hingga fasilitator. Ia mengungkapkan, Habibie pernah menyanggupi apa pun permintaannya. Hanya saja, Parni menolak. “Saya bilang ke beliau, you are my umbrella, tapi saya ingin besar sendiri dan tidak selalu berada di bayang-bayangmu. Mendengar itu, beliau tidak marah, malah memeluk saya,” kata Parni mengenang.

Kini, setelah kepergian tokoh bangsa tersebut pada 11 September lalu, semua orang mulai mencari lebih dalam mengenai Habibie. Kiprah serta prestasi Habibie pun menjadi inspirasi bangsa. Parni bersyukur masyarakat tak melupakan jasa pria kelahiran 1936 itu, tetapi dia tak akan lupa bagaimana dahulu Habibie diperlakukan. Terutama, ketika Habibie naik menjadi presiden menggantikan Soeharto.

“Sekarang orang memuji Habibie seperti apa, tapi dulu pas dia berkuasa, hanya Antara dan Republika yang membela. Dia pernah dibuatkan karikatur seperti Gareng (tokoh wayang), lalu saat masuk ke Sidang Istimewa, dia satu-satunya presiden yang pernah di-huuu (disoraki). Saya nangis melihatnya,” ujar Parni mengenang dengan mata berkaca-kaca.

Saat-saat terakhir sebelum wafat, Habibie masih mengirim pesan singkat kepada Parni. Begitu sebaliknya, Parni juga masih sempat pula meminta pencipta N-250 ini bersedia membubuhkan goresan kata pengantar pada bukunya. Kesediaan itu dijawab dengan sebuah pesan agar Parni bebas menulis apa pun dalam kata pengantar buku barunya dengan nama Habibie.

“Maka, saya tulis ‘Banyak jejak Parni untuk membangun bangsa di antaranya melalui bank dhuafa (Dompet Dhuafa) dan Republika’, kalimat itu khas Habibie. Dia selalu mengenal saya sebagai 'Mister Republika',” kata Parni seraya mencontohkan gaya bicara Habibie.

Ini hanya sepenggal kisah dua orang sahabat, kakak-adik, guru dan murid, antara Habibie dan Parni Hadi. Kisah keduanya harus diputus takdir yang memisahkan fisik kedua sosok besar bagi Republika tersebut. Terima kasih, Parni. Selamat Jalan, Habibie! N iit septyaningsih, ed: agus raharjo

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA