Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

BNPB Siapkan 10 Ribu Bibit Pohon Tahan Api

Ahad 13 Oct 2019 13:44 WIB

Red: Ani Nursalikah

Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan 'water bombing' pada kebakaran hutan di kawasan Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (1/10/2019).

Helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan 'water bombing' pada kebakaran hutan di kawasan Kereng Bangkirai, Taman Nasional Sebangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (1/10/2019).

Foto: Antara/Bayu Pratama
Pohon laban tergolong tahan api dan tidak mati meski sudah hangus terbakar.

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKALPINANG -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan 10 ribu bibit pohon laban, tanaman asli Indonesia yang tahan api. Pohon tersebut untuk daerah-daerah yang wilayahnya rawan menghadapi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

"Kalau ada gubernur, bupati, dan wali kota yang berminat, maka silakan ambil bibit pohon laban tersebut," kata Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo saat menghadiri puncak peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana di Pangkalpinang, Ahad (13/10).

Pohon laban tergolong tahan api dan tidak mati meski sudah hangus terbakar. Jenis pohon berkayu keras dan tahan air ini cocok menjadi tanaman sekat bakar untuk menghambat api meluas saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Saya cari pohon laban dan ketemu. Saat ini, BNPB memiliki 10 ribu bibit pohon tahan api tersebut," kata Doni.

Ia mengatakan kepala daerah yang ingin mendapatkan bibit pohon laban bisa mengajukan permintaan ke BNPB. "Maksimal kepala daerah hanya mendapatkan satu paket bibit yang berisikan 500 batang dan tidak boleh lebih," katanya.

Doni mengemukakan perlunya upaya-upaya mencari dan mengembangbiakkan tanaman-tanaman yang bisa digunakan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan bencana alam. "Kita harus berkomitmen mencegah bencana alam ini, terkadang hal-hal yang sederhana sering diabaikan dimana ketika musim kemarau selalu terjadi kekeringan dan kebakaran. Demikian juga ketika musim hujan, selalu terjadi banjir, longsor, dan bencana alam," katanya.

"Kita harus terus mencari cara-cara yang bersifat tradisional, misalnya mencari tanaman-tanaman yang bisa (digunakan untuk) mengantisipasi dan mencegah bencana alam tersebut," katanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA