Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

I-Cane, Tongkat Ajaib Untuk Difabel Netra

Ahad 13 Okt 2019 14:52 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Dwi Murdaningsih

Dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia, ratusan Difabel Netra (DN) berolah raga berjalan kaki ditemani pendamping pada acara Blind Run & Walk yang digelar Syamsi Dhuha Foundation (SDF), di Lapangan Saraga, Kota Bandung, Sabtu (12/10).

Dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia, ratusan Difabel Netra (DN) berolah raga berjalan kaki ditemani pendamping pada acara Blind Run & Walk yang digelar Syamsi Dhuha Foundation (SDF), di Lapangan Saraga, Kota Bandung, Sabtu (12/10).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Ada sensor dan roda yang membantu difabel netra ketika berjalan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Tongkat menjadi salah satu alat yang tidak bisa dilepaskan oleh penyandang difabel netra. Tongkat memudahkan difabel netra ketika berjalan.

Syamsi Dhuha Foundation (SDF) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung mengembangkan tongkat dengan nama I-Cane. I-Cane resmi diluncurkan pada acara Hari Penglihatan Dunia 2019 di ITB, Kota Bandung, Sabtu (12/10).

I-Cane ini merupakan pengembangan dari lomba yang sebelumnya digelar oleh SDF. Eko Agung Syaputra, salah satu tim pengembang menyebut I-Cane ini memiliki kelebihan dibanding tongkat lainnya.

"Tongkat ini sebenarnya sudah ada dari 2017, pada akhirnya diminta kembangin agar user friendly sehingga bisa digunakan dengan layak oleh disabilitas netra dengan segala bentuk kenyamanannya," kata Eko.

Saat itu, Eko merupakan mahasiswa Desain Produk ITB. Kemudian Eko dibantu oleh mahasiswa Teknik Biomedika untuk mengembangkan fasilitas yang ada di I-Cane.

"Setelah kita bikin prototype-nya, kita tes dan ujikan ke pengguna dan ada feedback. Akhirnya kita berikan pembenahan ulang dan hasil akhir seperti yang diluncurkan," katanya.

Konsep I-Cane memudahkan penggunanya ketika berjalan. Terdapat roda di bagian bawah tongkat agar pengguna bisa "melihat" kondisi jalan. Terdapat pula sensor untuk mengetahui halangan yang ada di depan pengguna.

"Kecepatan sensor pun cukup cepat, kalau ada motor lewat pun dia bisa dengan cepat mendeteksi," katanya.

Sinyal tersebut pun bersikap personal dan tidak menarik perhatian setiap orang. Bunyi yang dikeluarkan pun dinilai Eko tidak akan mengganggu penggunanya.

Salah satu inovasi yang diberikan dalam I-Cane ini adalah GPS. Ada tombol yang bisa digunakan pengguna untuk memberitahu posisinya. I-Cane kemudian memberikan sms berupa lokasi pengguna, dimana bisa mengirimkan hingga 10 nomor.

Eko memang tidak memberikan harga yang pasti jika I-Cane ini dijual secara komersil. Namun dari segi pembuatan, Eko menekan harga seefisien mungkin.

"Seperti sistem cetak kita gunakan 3D print, komponen GPS, baterainya pun kita yang medium, jadi bukan yang bagus mahal, dan bukan murahan," ucap dia.

Dia berharap, I-Cane bisa segera diperbanyak dan dikenalkan masyarakat luas. Menurutnya, I-Cane bisa memberi kenyamanan lebih bagi penggunanya.

"Memang alat ini sudah banyak yang buat hampir serupa. Tapi entah kenapa ini alat seperti ini belum dikenal masyarakat luas," katanya.

Salah satu peserta acara, Irma, tertarik dengan I-Cane. Menurutnya, fasilitas GPS menjadi salah satu yang bisa dimanfaatkan untuk disabilitas netra low vision seperti dia.

"Karena low vision itu kalau dilihat sekilas tidak seperti disabilitas netra, jadi ketika kita kesasar atau terlihat kesulitan, orang justru sungkan untuk bantu," kata wanita berusia 30 tahun ini.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA