Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Wamena Masih Siaga

Ahad 13 Okt 2019 16:22 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Muhammad Hafil

Sejumlah warga antre mengambil makanan di posko pengungsian Tongkonan Toraja, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Sabtu (12/10/2019).

Sejumlah warga antre mengambil makanan di posko pengungsian Tongkonan Toraja, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Sabtu (12/10/2019).

Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Aparat keamanan masih standby di Wamena.

REPUBLIKA.CO.ID,WAMENA — Otoritas keamanan masih menetapkan Kota Wamena, sebagai zona siaga-1. Tiga pekan setelah kerusuhan 23 September, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya tersebut, masih menebalkan keamanan. Sebanyak 1.400 personel gabungan TNI dan Polri digelar untuk memberikan jaminan kondusifitas. Tetapi jumlah warga yang kembali dari eksodus akibat kerusuhan 23 September lalu, masih di angka yang minim.

Baca Juga

“Siaga-1 itu memang artinya kita masih standby. Pasukan gabungan digelar di titik-titik kerawanan, dan di pintu masuk keluar dari dan ke Wamena,” kata Dandim Letkol Inf Chandra Diyanto saat ditemui Republika di Markas Kodim 1702/Jayawijaya, di Wamena, Sabtu (12/10). Ia menerangkan, tiga pekan setelah kerusuhan terjadi, wilayahnya berangsur normal, meskipun masih dalam situasi keamanan yang belum pulih benar.

Kata Chandra, upaya pihak keamanan memulihkan keamanan di Wamena, dengan pendekatan yang komunikatif. Kata dia, sistem patroli ikut melibatkan dan berkomunikasi dengan masyarakat untuk berdialog. “Patroli yang kita lakukan, untuk meyakinkan bahwa situasi sudah aman,” ujar dia. Hanya, dia menerangkan, patroli yang dilakukan tak terjadwal. Artinya, kata dia, patroli dilakukan dengan jam-jam tertentu dan menuju titik-titik yang acak. “Patroli dilakukan sampai ke pelosok-pelosok,” sambung dia.

Meskipun TNI dan Polri sudah memberikan jaminan rasa aman untuk situasi yang kondusif, keyakinan masyarakat yang eksodus keluar Wamena, masih minim untuk kembali. Aster Kodim Wamena Kapten Effendi menerangkan, sampai Sabtu (12/10) pagi, masih tercatat resmi ada sekitar 17.367 warga yang  eksodus keluar Kota Wamena sejak kerusuhan. Sedangkan yang kembali sampai Sabtu (12/10), baru sekitar 336 orang. Kata dia, jumlah pengungsi yang ada di Wamena, pun masih banyak, sekitar 480 orang. 

“Itu ada di delapan pos-pos penampungan, termasuk yang di Kodim, Koramil, di Polres (Wamena), di beberapa gereja, dan masjid-masjid yang ada di Wamena,” ujar dia. Namun dikatakan dia, khusus para pengungsi di Kodim 1702 Jayawijaya, warga korban kerusuhan, sudah dilokalisir ke beberapa rumah anggota-anggota dari satuannya.

“Mungkin ada yang kenal, karena satu suku, atau karena satu kampung halaman,” ujar Effendi. Ia menambahkan, jumlah korban meninggal dunia, pun masih tetap sebanyak 33 orang. Yaitu dengan 31 warga meninggal dunia karena kekerasan, dan dua meninggal karena medis.

Versi militer setempat, data korban meninggal dunia ini, delapan di antaranya warga asli Papua. Sisanya, 25 jenazah teridentifikasi warga pendatang. Jumlah angka tersebut, beda dari rangkuman Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Dominikus Surabut yang menyebut pendataan korban jiwa, sudah mencapai 43 orang, Jumat (11/10). Yaitu, dengan 25 jenazah teridentifikasi sebagai pendatang, dan 15 lainnya, dikatakan sebagai korban meninggal dari warga Papua. “Tiga korban yang lainnya, belum bisa diidentifikasi apakah warga asli, atau pendatang,” kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA