Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Pendukung ISIS Kabur dari Kamp Pengungsian di Suriah Utara

Senin 14 Oct 2019 03:25 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Andri Saubani

Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.

Kamp pengungsian Al-Hol di Hassakeh, Suriah yang menampung keluarga anggota militan ISIS.

Foto: Reuters
Diperkirakan ada sekitar 700 orang pendukung ISIS yang kabur dari kamp penahanan.

REPUBLIKA.CO.ID, suriah UTARA -- Bentrok antara pasukan Turki dan Kurdi berujung pada kaburnya pendukung ISIS dari kamp penahanan di Suriah Utara. Diperkirakan ada sekitar 700 orang pendukung ISIS yang kabur dengan cara menyerbu gerbang dan menyerang penjaga kamp tersebut.

Ratusan orang yang terdiri dari anggota keluarga para pasukan ISIS ini kabur pada Ahad (13/10) pagi. Mereka kabur sesaat setelah serangan udara dari pasukan Turki jatuh ke area di sekitar kamp penahanan.

Kejadian ini juga terjadi hanya beberapa jam sebelum militer Amerika Serikat memutuskan untuk menarik pasukan tentara mereka yang tersisa di Suriah utara dalam beberapa minggu ke depan. Keputusan ini diambil di tengah mulai bangkitnya kembali kekuatan ISIS setelah pasukan militer Turki berupaya merebut wilayah tersebut dari kekuasan pasukan Kurdi.

"Kami menghadapi serangan yang sangat sengit dan dipaksa untuk menurunkan jumlah pasukan penjaga," ungkap Ciya Kurd selaku pihak otoritas setempat, seperti dilansir New York Times.

Menteri Pertahanan AS Mark T Esper mengumumkan, bahwa AS akan mengevakuasi sekitar 1.000 pasukan militer AS dari Suriah bagian utara. Sebelumnya, sekitar 50 pasukan militer AS sudah ditariik lebih dulu dari area tersebut sebagai bentuk antisipasi dari serangan Turki.

"AS menyadari bahwa kami kemungkinan terperangkap di antara dua pasukan militer maju yang berlawanan," ujar Esper.

Esper juga menyoroti adanya peningkatan konflik yang cukup signifikan di Suriah utara. Peningkatan konflik ini memunculkan situasi yang sangat mengerikan di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, Esper mengatakan otoritas Kurdi sedang melakuakn negosiasi dengan pemerintah Suriah dan Rusia untuk membentuk persekutuan dan melawan pasukan Turki. Dalam hal ini, Esper mengatakan AS tidak ingin terjebak di tengah-tengah baku-tembak yang mungkin terjadi.

Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa Kurdi dan Turki sudah berselisih sejak lama. Turki menganggap Partai Pekerja Kurdistan (PKK) sebagai teroris terburuk. Di sisi lain, ada banyak orang juga yang ingin bergabung dan bertarung bersisian dengan PKK.

"Biarkan saja mereka! Kami memantau situasinya dari dekat. Perang yang tidak pernah berakhir," tulis Trump melalui akun Twitter pribadinya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA