Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Kualitas Udara Sumatra Selatan Kembali Memburuk

Senin 14 Okt 2019 12:57 WIB

Rep: Rizkyan adiyudha/ Red: Esthi Maharani

Warga beraktivitas di perairan Sungai Musi yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/10/2019).

Warga beraktivitas di perairan Sungai Musi yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (11/10/2019).

Foto: Antara/Mushaful Imam
Karhutla masih mengganggu aktivitas masyarakat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu aktivitas masyarakarat. Asap akibat karhutla itu berdampak pada diliburkannya aktivitas pendidikan di Kota Palembang, Sumatra Selatan, Senin (14/10).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan, instruksi dihentikannya aktivitas pendidikan itu dilakukan kepala dinas pendidikan Kota Palembang melalui pesan digital. Dia memerintahkan bahwa kegiatan belajar mengajar di tingkat paud, TK, SD dan SMP negeri dan swasta diliburkan.

"Kegiatan belajar diliburkan sejak hari ini (14/10) hingga batas yang belum ditentukan karena asap yang mengganggu dan membahayakan masyarakat," kata Agus Wibowo dalam keterangan resmi di Jakarta.

Agus mengungkapkan, pantauan BNPB mendapati bahwa kualitas udara dilihat dari indikator PM 2,5 pagi ini di wilayah Sumatera Selatan mencapai pada tingkat berbahaya atau pada angka 921. Kualitas udara tersebut seiring dengan jumlah titik panas di wilayah itu hingga mencapai 691 titik.

"Angka itu tertinggi di antara wilayah lain, seperti Riau, Jambi dan beberapa wilayah Kalimantan," kata Agus lagi.

Dia menerangkan, penanganan darurat di wilayah Sumatera Selatan masih terus berlangsung hingga kini. BNPB, laniut dia, mengerahkan tujuh helikopter untuk melakukan pengeboman air atau water-bombing. Air yang digunakan untuk pengeboman sudah mencapai 66 juta liter air.

Agus mengatakan, untuk operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) telah mengelontorkan sekitar 14 ribu garam (NaCl). Papar dia, operasi udara ini didukung juga personel darat gabungan mencapai lebih 8.000 personel.

Data BNPB per 14 Oktober 2019 hingga pukul 09.00 WIB mencatat adanya 1.184 titik panas. Agus mengatakan, pantauan titik panas berdasarkan citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir.

Dia mengatakan, dilihat dari sebaran titik panas di wilayah Sumatera, arah angin pada umumnya mengarah dari tenggara ke barat laut. Arah sebaran asap di Sumatera Selatan menyebar ke arah barat laut. Terpantau titik panas berada di wilayah-wilayah, seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin.

Agus mengatakan, BMKG merilis citra sebaran asap pada hari ini tidak terdeteksi adanya transboundary haze atau asap yang melewati batas negara. Data tersebut diambil dari citra satelit Himawari pada hari ini (14/10). Dari citra satelit itu, terpantau persebaran asap di wilayah Sumatera dan Kalimantan. 

Sementara itu, KLHK mencatat kualitas udara dengan parameter PM 2,5 di beberapa wilayah menunjukkan tingkat yang memburuk. Kualitas udara Jambi menunjukkan angka 235 sangat tidak sehat, Kalimantan Tengah 102 tidak sehat, Kalimantan Selatan 174 sangat tidak sehat dan Riau 51 atau tidak sehat.

"Sedangkan sebaran titik panas di beberapa wilayah sebagai berikut, Sumatera Selatan berjumlah 691 titik, Kalimantan Tengah 230 titik, Jambi 117, Kalimantan Selatan 28, Riau 16 dan Kalimantan Barat 12," kata Agus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA