Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Analis: Sulit Bagi Prabowo Jadi Oposisi Selama 10 Tahun

Senin 14 Okt 2019 16:00 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputra/ Red: Teguh Firmansyah

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (tengah) menyampaikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad (13/10/2019).

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (tengah) menyampaikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad (13/10/2019).

Foto: ANTARA FOTO
Pangi menilai manuver yang dilakukan Prabowo belakangan ini cukup agresif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago memahami bahwa manuver politik yang dilakukan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto adalah untuk pilpres 2024. Pasalnya, sulit bagi Prabowo menjadi oposisi selama 10 tahun.

"Berat bagi Prabowo puasa, apalagi pertarungan pilpres 2024 butuh logistik, tanpa cantolan yang kuat, sangat berat Gerindra bisa bertarung pada pilpres 2024," kata Pangi kepada Republika.co.id, Senin (14/10).

Ia menganggap manuver politik yang belakangan dilakukan Prabowo sangat agresif. Menurutnya hal ini adalah upaya Prabowo dalam membangun silaturahim politik, agar partai koalisi pengusung tidak meradang.

Kendati demikian, tak dipungkiri ada risiko yang dipertaruhkan oleh Gerindra dan Prabowo. Salah satunya adalah kemungkinan kehilangan basis dukungan akar rumput.
"Karena basis dukungan Prabowo selama ini kan basis akar rumput antitesis dari Jokowi," ujarnya.

Baca Juga

photo
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) usai melakukan pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/10/2019).


Selain itu, ia menilai resistensi terhadap Gerindra jika bergabung ke koalisi pemerintah cukup kuat. Pasalnya hal itu juga mempengaruhi citra Gerindra pada pemilu 2024.
"Kalau nanti citra pemerintah redup, kalau pemerintah citranya negatif, maka bisa mempengaruhi insentif elektoral gerindra," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA