Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Kereta LRT Terancam 'Dijemur'

Selasa 15 Oct 2019 06:19 WIB

Rep: Amri Amrullah/Rahayu Subekti/ Red: Bilal Ramadhan

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kiri) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (tengah) saat meninjau bagian dalam gerbong LRT di Stasiun Harjamukti, Depok, Jawa Barat, Ahad (13/10).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kiri) dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (tengah) saat meninjau bagian dalam gerbong LRT di Stasiun Harjamukti, Depok, Jawa Barat, Ahad (13/10).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
LRT tetap ditargetkan akan beroperasi pada 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rangkaian kereta lintas rel terpadu (LRT) telah sampai di Jakarta akhir pekan lalu dan telah dipasang pada jalur rel yang tersedia. Namun, karena belum adanya depo khusus kereta LRT yang secara spesifikasi sesuai dengan relnya, kereta LRT ini terancam akan "dijemur" di pemberhentian pit stop di atas jalur relnya.

Pakar dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengakui memang masih banyak kekurangan sebelum LRT Cawang-Cibubur diuji coba atau soft launching. Salah satunya, ia memberi catatan masih belum tersedianya depo.

"Uji coba tapi belum punya depo. Nanti mau disimpan di mana keretanya? Masa di atas rel?" kata Djoko, Senin (14/10).

Ia menilai LRT Jabodebek memang belum siap beroperasi. Namun, sudah ada permintaan agar LRT Jabodebek beroperasi untuk lintas pelayanan Harjamukti (Cibubur)-Cawang sepanjang 14,95 kilometer.

"Lintas ini memang sudah selesai secara konstruksi untuk lintasannya, namun belum dilengkapi dengan fasilitas sinyal, telekomunikasi, dan listrik," ujar dia.

Ditambah lagi pekerjaan konstruksi bangunan stasiun belum mencapai 50 persen. Selain itu, jalan akses ke stasiun, fasilitas transportasi umum lanjutan, serta lahan parkir bagi kendaraan bermotor dan tidak bermotor belum tampak sama sekali.

Rencana jaringan LRT Jabodebek 82,93 kilometer terbagi dalam dua fase pembangunan. Fase pertama sepanjang 44,43 kilometer dengan 19 stasiun terbagi dalam tiga lintas pelayanan, yaitu lintas pelayanan 1 antara Cawang-Harjamukti (Cibubur) 14,89 kilometer dengan 4 stasiun, lintas pelayanan 2 antara Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 11,05 kilometer dengan 9 stasiun, dan lintas pelayanan 3 antara Cawang-Jatimulya (Bekasi Timur) 18,49 kilometer dengan 6 stasiun.

Sementara itu, fase kedua sepanjang 38,5 kilometer terbagi atas tiga lintas pelayanan. Lintas Palmerah-Senayan 7,8 kilometer, lintas Cibubur-Bogor 25 kilometer, dan lintas Palmerah-Grogol 5,7 kilometer. Stasiun Cawang merupakan pertemuan dari tiga lintas pelayanan. Stasiun Halim akan terhubung dengan layanan kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Fase pertama direncanakan selesai dan bisa beroperasi sebelum berakhir tahun 2021. Semula ditargetkan tahun 2019 sudah bisa beroperasi," ujarnya.

Sebelumnya, PT Adhi Karya (Persero) Tbk sudah mulai melakukan pengangkatan rangkaian kereta LRT Jabodebek pada Ahad (13/10). Untuk selanjutnya, uji coba LRT Jabodebek akan dilakukan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, uji coba dilakukan secara bertahap dan detail selama satu tahun untuk total 31 rangkaian kereta LRT Jabodebek yang ada. Meskipun cukup lama proses uji cobanya, Budi memastikan LRT Jabodebek tetap ditargetkan beroperasi pada 2021.

Karena itu, sebelum mencapai waktu tersebut, LRT Jabodebek harus menyelesaikan tes sarana dan konstruksi secara bersamaan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA