Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Selasa, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Bamsoet: SBY Bersedia Hadiri Pelantikan Presiden-Wapres

Rabu 16 Okt 2019 22:32 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Ketua MPR Bambang Soesatyo.

Foto: MPR
Kehadiran tokoh bangsa tentu akan memberikan keteduhan bagi perpolitikan di Tanah Air

REPUBLIKA.CO.ID, CIKEAS -- Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono bersedia menghadiri pelantikan Presiden dan Wapres terpilih Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Ahad (20/10). "Pak SBY menyatakan kesediaannya untuk hadir pada acara pelantikan Presiden dan Wapres RI hasil Pemilu 2019. Sekaligus ingin memberikan pesan bahwa suhu politik Indonesia sangat kondusif dan pemimpinnya kompak," kata Bamsoet, seusai menyampaikan undangan pelantikan Presiden-Wapres terpilih kepada SBY, di Cikeas, Jawa Barat, Rabu (16/10) malam.

Baca Juga

Bamsoet menyampaikan bangsa Indonesia tidak banyak memiliki bapak dan ibu bangsa. Dia mengatakan setidaknya hanya tinggal dua Presiden RI yang sekarang menjadi tokoh bangsa, yakni Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden keenam RI SBY. "Ini aset, guru, yang harus kita teladani dari kedua beliau. Kehadiran beliau-beliau nanti tentu akan memberikan keteduhan bagi perpolitikan Tanah Air kita sekaligus beri pesan baik bagi kepemimpinan Pak Jokowi-Ma'ruf lima tahun ke depan," kata dia.

Lebih lanjut Bamsoet mengatakan bahwa dalam pertemuan itu, pimpinan MPR yang hadir juga membicarakan dengan SBY soal berbagai diskursus terkait dengan amendemen UUD 1945 sebagai rekomendasi MPR 2014-2019. "Pesan beliau kalau ada gagasan, pemikiran aspirasi tentang rencana perubahan amendemen UUD 1945 khususnya tentang GBHN jangan dipadamkan, tampung, terima masukan," ujar Bamsoet lagi.

Menurut Bamsoet, SBY berpandangan masih ada waktu emas. Sehingga perlu memberikan kesempatan publik untuk menyampaikan masukan atas berbagai perkembangan zaman dan perlu tidaknya UUD 1945 dilakukan perubahan kembali. "Dalam bahasa beliau, beliau hanya ingin menyebut sebagai penyempurnaan," kata dia.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA