Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Pekerja Migran di Oman Asal Indramayu 15 Tahun Hilang Kontak

Kamis 17 Oct 2019 15:12 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkumpul untuk menjalani pendataan saat tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (16/10/2019).

Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) berkumpul untuk menjalani pendataan saat tiba di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Rabu (16/10/2019).

Foto: Antara/Agus Alfian
Muyasiroh bekerja di Oman pada saat usianya masih 15 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Muyasiroh binti Ruslani (30 tahun), seorang pekerja migran perempuan asal Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hilang kontak dengan keluarganya selama 15 tahun setelah bekerja di Muscat, Oman. Pihak keluarga berharap pemerintah bisa membantu menemukan dan memulangkan Muyasiroh.

Baca Juga

‘’Sudah 15 tahun terakhir ini tidak ada kabar berita dari anak saya, apakah dia sehat atau tidak. Kami sangat cemas memikirkan nasibnya,’’ ujar Ruslani, ayah dari Muyasiroh, Kamis (17/10).

Pekerja migran asal Blok Panggang, RT 004, RW 002, Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu itu berangkat ke Oman setelah diajak oleh seorang sponsor bernama Udin, warga Desa Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, sekitar September 2004. Setelah mengikuti proses selama kurang lebih satu bulan, Muyasiroh akhirnya diterbangkan pada 4 Oktober 2014. Dia berangkat melalui salah satu pengerah jasa TKI yang beralamat di Bukit Duri, Kampung Melayu, Jakarta Timur.

‘’Waktu itu Muyasiroh masih berumur 15 tahun, belum lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama),’’ kata Ruslani.

Ibu kandung Musiyaroh, Masroti, mengatakan, anaknya di Oman bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Adapun majikannya merupakan pasangan suami istri bernama Habib dan  Sangadah, yang beralamat di Sultanate of Oman, PO Box 4, ZlP Code 420, Mudhaibi, Muscat.

Musiyaroh mengaku sangat merindukan anaknya. Dia khawatir karena tidak ada kejelasan mengenai nasib anaknya selama 15 tahun terakhir ini.

‘’Setiap selesai shalat, saya berdoa meminta kepada Allah SWT agar bisa bertemu kembali dengan anak saya,’’ tutur Masroti.

Masroti pun meminta bantuan kepada Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) agar menyampaikan masalahnya itu kepada Pemerintah Indonesia. Dia berharap agar pemerintah bisa membantu untuk menemukan dan memulangkan anaknya ke kampung halamannya di Indramayu.

‘’Saya ingin segera  berkumpul kembali dengan Muyasiroh,’’ kata Masroti.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu, Juwarih menyatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti pengaduan dari keluarga Muyasiroh itu dengan meneruskannya secara tertulis kepada Kemenlu dan KBRI di Oman.

Juwarih menjelaskan, pihak KBRI sudah mengecek atas nama Muyasiroh ke Kemenaker dan Imigrasi Oman. Namun, nama Muyasiroh binti Ruslani tidak ada di data mereka.

‘’Tapi mereka masih terus berupaya menyelidikinya lebih lanjut. Semoga bisa segera menemukannya,’’ kata Juwarih.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA