Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Thursday, 9 Sya'ban 1441 / 02 April 2020

Pendapatan Nelayan Cilacap Merosot karena Cuaca tak Tentu

Kamis 17 Oct 2019 00:00 WIB

Red: Ani Nursalikah

Sejumlah perahu milik nelayan ditambatkan di sekitar muara sungai Kaliyasa, Cilacap, Jateng.

Sejumlah perahu milik nelayan ditambatkan di sekitar muara sungai Kaliyasa, Cilacap, Jateng.

Foto: Idhad Zakaria/Antara
Gelombang tinggi masih sering terjadi sehingga tangkapan ikan sedikit.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Pendapatan nelayan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah merosot akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. "Kalau menurut hitungan Jawa, harusnya saat sekarang nelayan Cilacap akan segera memasuki masa panen raya. Namun, kenyataannya hasil tangkapannya tidak menentu, kadang bisa mendapatkan ikan, hari-hari berikutnya tidak ada ikan," kata Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang Tarmuji, Rabu (16/10).

Ia mengatakan berdasarkan informasi, nelayan di daerah lainnya baik di pesisir selatan Jateng maupun pantai utara Jateng juga mengalami kondisi serupa. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh cuaca yang tidak menentu karena masih sering terjadi gelombang tinggi.

"Kemarin sempat muncul ikan bawal putih namun cuma sebentar, layur dan udang juga ada namun cuma sedikit. Akibatnya, pendapatan nelayan Cilacap khususnya yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Pandanarang merosot," katanya.

Tarmuji mengatakan dari seratusan kapal nelayan Pandanarang yang berangkat melaut, hanya satu-dua kapal yang bisa memperoleh pendapatan kotor sebesar Rp 1 juta, sedangkan lainnya rata-rata hanya Rp 150 ribu. Menurut dia, pendapatan kotor sebesar Rp 1 juta itu harus dikurangi biaya operasional berupa bahan bakar minyak dan perbekalan sebesar Rp 300 ribu.

"Sisanya dibagi dua, untuk pemilik kapal dan anak buah kapal. Biasanya kalau sisa pendapatan setelah dikurangi biaya operasional hanya sebesar Rp 700 ribu, pemilik kapal hanya mengambil Rp 300 ribu, sisanya untuk ABK. Kalau kapal itu terdiri atas dua ABK, berarti dibagi dua, masing-masing Rp 200 ribu," katanya.

Ia mengharapkan kondisi cuaca segera kembali bersahabat sebelum datangnya musim angin baratan sehingga nelayan Cilacap bisa menikmati masa panen. Berdasarkan prakiraan cuaca yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Cilacap, gelombang tinggi masih berpeluang terjadi di perairan selatan Jawa Barat, perairan selatan Jawa Tengah, dan perairan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Bahkan, pada 16-18 Oktober 2019, tinggi gelombang di perairan selatan Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Sukabumi hingga Yogyakarta diprakirakan berkisar 2,5-4 meter," kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Teguh Wardoyo.

Menurut dia, tinggi gelombang tersebut dipengaruhi oleh angin bertiup di atas wilayah perairan maupun samudra dengan kecepatan berkisar 5-20 knot yang cenderung searah dari timur hingga selatan. Dia mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di wilayah perairan selatan Sukabumi-Yogyakarta maupun Samudra Hindia selatan Sukabumi-Yogyakarta yang berlaku hingga 18 Oktober 2019.

"Kami akan segera informasikan kepada masyarakat dan pengguna jasa kelautan jika ada perkembangan lebih lanjut," katanya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA