Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Warga Pacitan Gelar Shalat Istisqa di Sungai yang Mengering

Ahad 20 Oct 2019 16:22 WIB

Red: Agung Sasongko

Sekitar 6.000 santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, menggelar shalat sunah Istisqa (ilustrasi).

Sekitar 6.000 santri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, menggelar shalat sunah Istisqa (ilustrasi).

Foto: Antara/Arief Priyono
Kegiatan shalat istisqa itu digelar di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Pacitan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan warga Pacitan, Jawa Timur,  menggelar shalat istisqa atau meminta hujan di sebuah bendung sungai yang mengering. Laiknya shalat jamaah hari raya, acara dimulai dengan menggelar shalat sunah dua rakaat di dasar bendung Sungai Jelok yang mengering.

Baca Juga

Selesai shalat, ulama desa yang ditunjuk menjadi imam shalat menyampaikan khotbah dan memimpin doa-doa meminta hujan dalam bahasa Arab maupun Indonesia.

Kegiatan shalat istisqa itu digelar di Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, selama kurang lebih sejam hingga hujan yang ditunggu akhirnya turun membasahi sebagian wilayah Pacitan, termasuk di lokasi shalat istisqa.

"Ini upaya kami, seluruh warga Pacitan, khususnya warga Desa Sukorejo dalam memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan," kata Kepala Desa Sukorejo M Anam usai pelaksanaan shalat Istisqa, Ahad (20/10).

Ibadah sunah dua rakaat itu tidak hanya diikuti perangkat desa saja. Namun juga masyarakat dari berbagai tingkatan usia, mulai anak-anak sampai orang tua.
Menurur Anam, bencana kekeringan telah enam bulan melanda Pacitan, termasuk di wilayah tersebut.

Tak hanya membuat aliran Sungai Jelok yang mengering, permukaan air bawah tanah juga turun drastis. Air sumur yang dulunya bisa disedot kini dalam dua menit cepat habis.

Hal senada juga disampaikan Waluyo dan Hasyim dan Syarif Husein, warga setempat yang menyebut air sumur mereka telah berubah warna menjadi kekuning-kuningan Sebenarnya air semacam itu tidak layak digunakan namun warga tidak memiliki pilihan karena tidak ada alternatif suplai air bersih dari luar yang mencukupi.

"Untuk konsumsi kami terpaksa blandong air dari sumur-sumur warga lain yang airnya masih jernih," katanya.

Persoalan kesulitan air bersih semacam itu memang jamak terjadi ketika musim kemarau di kawasan berjuluk Paradise of Java ini. Hanya saja tahun ini dirasakan warga kondisinya lebih parah.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebut, untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada wilayah terdampak, mereka telah menyalurkan ribuan tangki air.

Upaya tersebut akan terus berlangsung sampai permintaan bantuan berakhir seiring datangnya musim penghujan yang diperkirakan akan tiba awal November nanti.
"Sebanyak 1.070 tangki telah disalurkan untuk warga yang membutuhkan air bersih," kata Kasi Kesiapsiagaan dan Kedaruratan BPBD Aswin Rikha Wijaya

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA