Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

LPOI Ingin Pemerintah Lebih Tegas Perangi Radikalisme

Senin 21 Okt 2019 01:15 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Teguh Firmansyah

Sekretaris Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Luthfi Attamimi saat menyampaikan konferensi pers terkait maraknya aksi terorisme di Kantor LPOI, Jalan Keramat VI, Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Sekretaris Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Luthfi Attamimi saat menyampaikan konferensi pers terkait maraknya aksi terorisme di Kantor LPOI, Jalan Keramat VI, Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Foto: Republika/Muhyiddin
LPOI menilai sikap radikal dan paham teroris berasal dari luar negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menaruh harapan besar terhadap presiden dan wakil presiden yang baru saja dilantik hari ini. LPOI sangat ingin pemerintah sekarang lebih tegas dalam memerangi radikalisme, terorisme dan separatisme.

Sekretaris Umum LPOI, KH Luthfi At-Tamimi menyampaikan bahwa radikalisme, terorisme dan separatisme harus diperangi dengan sangat tegas karena mereka membahayakan Indonesia. Maka jangan ada pembiaran terhadap mereka yang merongrong Pancasila dan bangsa Indonesia.

LPOI juga menyarankan pemerintah bisa mengatur ormas-ormas yang ada di dalam negeri. Ada sekitar 400 ribu ormas di Indonesia. LPOI menilai jumlah ormas yang terlalu banyak tidak baik bagi Indonesia karena akan susah mengelola dan mengaturnya.

"LPOI juga prihatin, masih ada ormas yang radikal dan melanggar undang-undang ormas. Ada ormas yang mudah mengkafirkan orang lain," kata KH Luthfi kepada Republika, Ahad (20/10).

Ia menegaskan, LPOI juga berharap ke depan pemerintah harus lebih tegas terhadap ormas yang disinyalir radikal. Ketegasan pemerintah terhadap mereka yang radikal sangat diperlukan demi menjaga keutuhan bangsa dan Pancasila.

LPOI juga beranggapan sikap radikal dan paham teroris berasal dari luar negeri, bukan berasal dari Indonesia. "Maka jangan sampai orang-orang asing itu datang ke sini membuat yayasan dan mengkafirkan kita, menuduh kita bidah, dan mengatakan Islam kita salah," ujarnya.

KH Luthfi menyampaikan, banyak juga orang-orang yang menganggap hanya Islam mereka yang benar, sementara Islam yang lain salah. Orang-orang seperti itu yang membawa musibah di negeri-negara lain. Inilah yang menjadi perhatian dan keprihatinan LPOI.

LPOI sudah duduk bersama BIN dan Densus, tapi belum duduk bersama Polisi. LPOI ingin menyampaikan pandangannya kepada Polisi mengenai ancaman radikalisme, terorisme dan separatisme.

KH Luthfi menegaskan, adanya teroris dan radikalisme adalah ajaran dari luar negeri, bukan dalam negeri. Ada kelompok di luar negeri yang menuduh semua aliran Islam lain kafir.

"Maka kita mengharap pemerintah lebih aktif, tolong cari dari mana dana orang-orang yang berangkat ke Suriah itu, dari mana dana untuk aksi bom itu," ujarnya.

LPOI melihat peristiwa penusukkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamaman (Menko Polhukam) Wiranto, peristiwa di Papua, separatis dan terorisme sudah lampu merah. Kalau mereka dibiarkan akan merongrong bangsa Indonesia dan akan menghancurkan keutuhan Indonesia.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA