Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

ACT: Tiga Pekan Berlalu, Pengungsi Ambon Masih Alami Trauma

Selasa 15 Oct 2019 14:53 WIB

Rep: Zainur mahsir ramadhan/ Red: Gita Amanda

Bangunan yang rusak akibat gempa bumi di wilayah Liang Ambon, Maluku, Jumat (27/9/2019).

Bangunan yang rusak akibat gempa bumi di wilayah Liang Ambon, Maluku, Jumat (27/9/2019).

Foto: dok. Humas BNPB
Gempa yang fluktuatif dirasa semakin memberatkan para pengungsi gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hampir tiga pekan gempa Ambon terjadi, namun kebanyakan penyintas saat ini masih bertahan di tenda pengungsian. Direktur Aksi Cepat Tanggap, Lukman Aziz memaparkan bahwa kondisi para penyintas masih alami trauma mendalam. Menurut dia, hal tersebut dikarenakan intensitas gempa yang saat ini masih fluktuatif.

"Bukannya semakin menurun, gempa yang fluktuatif itu dirasa semakin memberatkan para pengungsi gempa," ujar dia kepada Republika.co.id, Selasa (15/10).

Dia mengatakan, hingga kini menurut data yang dihimpun pihaknya, ada lebih dari 1.500 gempa susulan. Oleh sebab itu, dia mengatakan bahwa trauma tidak hanya menyebabkan perekonomian yang tersendat, tetapi ketakutan untuk pergi dari pengungsian juga membuat kondisi kesehatan para penyintas cukup terdampak.

Ketika ditanya kondisi pengungsi di lapangan, dia menuturkan, pengungsian yang berada di bukit-bukit cukup menyulitkan akses bantuan. Karena itu, pihaknya memberikan bantuan cepat tanggap berupa dapur umum dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh ACT, hingga kini ada sekitar 170.900 penyintas. Selain itu, jumlah korban meninggal mencapai 43, selain dari total sebanyak 1.578 orang yang luka-luka.

Dari 170.900 pengungsi tersebut terbagi menjadi tiga wilayah. Di mana Kota Ambon mencapai 5.980 jiwa, kemudian Kabupaten Maluku Tengah 90.833 jiwa dan Kabupaten SBB 74.087 jiwa.

Dia menambahkan, masih banyak para penyintas yang mengalami sakit. Namun demikian, penyintas yang mengalami sakit tersebut, bukan hanya dampak dari pengungsian. Akan tetapi juga karena penyakit bawaan sebelum terjadi gempa.

"Seperti di wilayah seram ada gizi buruk yang menjadi permasalahan sejak sebelum gempa," kata dia.

Dia menambahkan, di wilayah Liang sendiri juga ada berbagai penyakit, bahkan kanker yang sudah dialami penyintas sejak sebelum gempa. Oleh sebab itu, dengan kondisi tersebut, para penyintas yang telah mengalami sakit, kondisinya semakin diperparah ketika mereka berdiam di tenda pengungsian.

"Selain memberikan dapur umum, logistik, dan lainnya act juga memberikan bantuan medis dan trauma healing," ujar dia.

Dia memaparkan, pihaknya hingga kini memiliki lima titik posko kesehatan, di tiga wilayah besar. Seperti di Liang Maluku Tengah, di pulau Haruku dan pulau Seram.

"Itu yang jadi titik implementasi kita," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA