Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

ARI Adakan Kuliah Visi Kerelawanan di Sleman

Senin 21 Oct 2019 17:11 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

 Kuliah visi kerelawanan yang diselenggarakan Akademi Relawan Indonesia (ARI) Dusun Gondanglegi, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Kuliah visi kerelawanan yang diselenggarakan Akademi Relawan Indonesia (ARI) Dusun Gondanglegi, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Foto: Dokumen.
Relawan merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan sifatnya profesional.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Akademi Relawan Indonesia (ARI) menggelar kuliah visi kerelawanan. Kuliah dihadiri ARI DIY-Jawa Tengah, dihelat bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Kuliah diisi Ketua Dewan Pembina MRI, Ahyudin, di Dusun Gondanglegi, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, DIY. Sekitar 80-an relawan-relawan hadir mengikuti agenda tersebut.

Kepala Akademi Relawan Indonesia, Andri Perdana menyampaikan, sejak 2018 ARI terus mengadakan berbagai pelatihan dan pendidikan (diklat) kerelawanan. Baik untuk relawan internal maupun masyarakat umum.

"Setidaknya, terdapat 130 pelatihan yang terdiri dari berbagai bentuk-bentuk program diklat dengan tidak kurang 4.716 penerima manfaat program diklat," kata Andri.

Isinya mulai dasar kerelawanan sampai keterampilan klaster relawan. Seperti relawan medis, relawan pendidikan, relawan media jurnalistik, relawan fundrising, pemberdayaan masyarakat, dan relawan lingkungan.

Ke depan, ARI bertekad meningkatkan intensitas program diklat yang dibutuhkan relawan-relawan. Tujuannya, menguatkan aksi kemanusian yang diisi program-program lokal, nasional sampai global.

Pada kesempatan itu, Ketua Dewan Pembina ACT dan MRI, Ahyudin mengingatkan, kerelawanan bukan sekadar aktivitas fisik. Tapi, aktivitas-aktivitas nonfisik serta aktivitas-aktivitas edukasi.

Untuk itu, ia menekankan, kerelawanan tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kemanusiasan dan kedermawanan. Sehingga, formulasi strategi membangun kemanusiaan, kedermawanan, dan kerelawanan jadi kesatuan.

Hal itu yang membuat Ahyudin menilai kuliah visi kerelawanan sangat penting. Sebab, sebagai bangsa yang sering berhadapan dengan bencana, Indonesia memerlukan relawan-relawan yang profesional.

"Untuk menghadapi bencana yang berisiko perlu ditangani relawan yang terampil dan profesional," ujar Ahyudin.

Selain itu, ia berpendapat, kehadiran ARI merupakan bagian keseriusan lembaga dalam membangun organisasi kerelawanan. Tujuannya, tidak lain memberikan aktivitas hebat dalam menghadapi berbagai isu kemanusiaan.

Bahkan, keseriusan itu sudah bisa dilihat dengan hadirnya akademi. Jadi, Ahyudin menambahkan, dicoba elaborasi secara dalam agar gagasan ini tumbuh menjadi visi, dikonsep dan diorganisasi secara baik.

Ahyudin mengingatkan, relawan bukan pekerjaan yang sepele, enteng, dan biasa-biasa saja. Relawan merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan sifatnya profesional.

Artinya, lanjut Ahyudin, relawan tidak hanya harus siap pada saat bencana alam. Tapi, mereka harus siap siaga setiap saat karena ada bencana lain yang sifatnya laten yaitu kemiskinan.

"Harapannya, ARI melahirkan energi-energi sumber daya hebat di bidang kerelawanan, juga memberikan andil positif terhadap lingkungan, baik skala mikro berupa isu lokal dan nasional maupun global," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA