Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Indonesia Harus Mengundang Investasi Berorientasi Ekspor

Jumat 27 Sep 2019 03:23 WIB

Rep: Retno Wulandari/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Pemerintah perlu memberikan sinyal-sinyal positif bagi para investor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai berpotensi meleset ke level 4,8 persen. Faktor utama yang dapat menyebabkan hal tersebut yaitu melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

"Kalau defisit melebar maka akan berpotensi di bawah 5 persen," kata ekonom Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal, Kamis (26/9).

Menurut Fithra, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mungkin menyentuh level 5,1 persen, asalkan pemerintah secara serius memperbaiki CAD. Caranya yaitu dengan meningkatkan produktivitas industri.

Hanya saja, peningkatan produktivitas industri tersebut bisa dilakukan untuk jangka menengah dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, sambungnya, Indonesia harus bisa mengundang investasi yang berorientasi pada ekspor.

"Oleh sebab itu, pemerintah perlu memberikan sinyal-sinyal positif bagi para investor, baik dengan regulasi maupun deregulasi," terang Fithra.

Bank Indonesia (BI) mengakui CAD masih akan menjadi tantangan Indonesia tahun 2020 untuk bisa mencapai pertumbuhan positif. Meski demikian, BI optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 akan tumbuh di kisaran 5,1-5,5 persen.

Proyeksi pertumbuhan naik dari perkiraan pertumbuhan tahun 2019 sekitar 5,0-5,4 persen. Konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertama dalam menjaga laju pertumbuhan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA