Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Dampak Angin Kencang, Kebun Apel di Batu Rusak

Selasa 22 Oct 2019 17:18 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani

Suasana posko pengungsian warga yang terdampak bencana angin kencang di Kota Batu, Senin (21/10).

Suasana posko pengungsian warga yang terdampak bencana angin kencang di Kota Batu, Senin (21/10).

Foto: Republika/Wilda Fizriyani
Banyak petani yang gagal panen hingga mengalami kerugian ratusan juta.

REPUBLIKA.CO.ID, BATU -- Bencana angin kencang di Kota Batu telah menyisakan dampak buruk bagi pertanian setempat. Banyak petani yang gagal panen hingga mengalami kerugian ratusan juta.

Desa terdampak angin, Sumberbrantas, Bumiaji merupakan sentra pertanian hortikultura di Kota Batu. Menurut Pengurus Koperasi Bolo Tani Makmur, Muhammad Anwar, wilayah ini banyak menghasilkan apel, kentang, wortel dan sayur. Kebun apel masyarakat setempat dilaporkan paling banyak mengalami kerusakan.

"Dan kerusakan nampak di semua kebun apel wilayah lereng Arjuno Besta dan Gimbo Desa Tulungrejo, buah apel rontok jatuh dari  pohon sebelum masa panennya. Termasuk beberapa pohon apel turut ambruk," kata Anwar saat dikonfirmasi Republika, Selasa (22/10).

Kondisi tersebut jelas telah merugikan para petani Bumiaji. Apalagi saat ini apel dan wortel telah memasuki masa panen. Kemudian ditambah lagi, sebagian besar modal pertanian mereka bersumber dari pinjaman bank.

Petani apel ini berharap pemerintah Kota Batu dapat memberikan bantuan. Salah satunya bisa dengan berupa rekomendasi bank untuk melakukan penundaan angsuran selama satu musim tanam. "Karena jelas para petani kasnya sedang kosong melompong," jelasnya.

Kerugian akibat angin kencang juga dialami oleh petani Masudi. Lima unit green house seluas 4.000 meter dalam kondisi rusak parah. Itu artinya dia harus kehilangan aset senilai Rp 800 jutaan.

"Jika kondisi normal satu bulan lagi, paprikanya sudah bisa panen. Tapi karena green house roboh, jadinya gagal panen," jelas Masudi.

Masudi juga memiliki lahan sawi putih seluas satu hektare (ha) yang siap panen. Sayuran ini ditaksir memiliki nilai jual sekitar Rp 150 jutawan. Namun karena tersapu angin, harganya akan menurun hingga Rp 50 juta.

Selain itu, sawi putih berusia remaja dengan luasan 1/2 ha milik Masudi juga terancam gagal. Padahal biaya produksi tanaman ini telah menghabiskan sekitar 15 jutaan. "Lalu persemaian sawi putih sejumlah 200.000 bibit senilai  Rp 20 juta juga hancur," tambahnya.

Tidak hanya paprika dan sawi, Masudi juga memiliki lahan pertanian wortel. Menurutnya, tanaman wortel ikut gagal panen setelah terkena sapuan angin, Sabtu dan Ahad lalu (19-20/10). Padahal dia telah mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp 10 jutaan.

Serupa dengan Anwar, Masudi meminta pemerintah dapat membantu pembiayaan pertanian masyarakat. Pemerintah setidaknya dapat memfasilitasi penundaan angsuran di bank. Pasalnya, sebagian pembiayaan para petani menggunakan biaya bank.

"Dan kalau bisa ada bantuan sarana produksi untuk mempercepat recovery kami," jelas Masudi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA