Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Bahlil Lahadalia, dari Kondektur Menjadi Calon Menteri

Selasa 22 Oct 2019 17:31 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Diundang Ke Istana Kepresidenan. Mantan Ketua HIPMI Bahlil Lahadalia  tiba di Istana Kepresidenan untuk bertemu Presiden Joko Widodo, Jakarta, Selasa(22/10).

Diundang Ke Istana Kepresidenan. Mantan Ketua HIPMI Bahlil Lahadalia tiba di Istana Kepresidenan untuk bertemu Presiden Joko Widodo, Jakarta, Selasa(22/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Jokowi sempat menyinggung nama Bahlil saat Munas Hipmi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bahlil Lahadalia masuk dalam deretan calon menteri periode 2019-2024 yang dipanggil Presiden Joko Widodo ke kompleks Istana Presiden, pada Selasa (22/10). Tiba sekitar pukul 13.10 WIB, Bahlil yang merupakan pengusaha nasional ini melangkah percaya diri saat memasuki Istana Kepresidenan.

Mantan ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) periode 2015-2019 ini, kepada para jurnalis mengatakan bahwa ia banyak diskusi soal perekonomian dengan Presiden Jokowi. Ia berdiskusi mulai dari pemerataan ekonomi Aceh, Papua hingga soal meningkatkan kapasitas UMKM.

Masuknya Bahlil ke dalam calon menteri Kabinet Kerja Jilid II sesungguhnya sudah diisyaratkan Jokowi ketika menghadiri Munas HIPMI XVI (Hipmi) di Jakarta, pada pertengahan September 2019.

"Tadi Adinda Bahlil menyorong-nyorongkan dan merekomendasikan beberapa yang hadir di sini. Tapi saya tahu, Adinda Bahlil ini pinter. Sebetulnya beliau menyorongkan diri sendiri," kata Jokowi.

Teka-teki soal calon menteri yang berasal dari kalangan berusia muda sering digadang-gadang Jokowi, sepertinya sudah terjawab.

Bahlil Lahadalia kelahiran Banda, Maluku Tengah, 7 Agustus 1976 ini pun terbukti dipanggil masuk dalam daftar yang diperkenalkan menjadi presiden, meskipun hingga Selasa (22/10) belum diketahui kursi jabatan menteri atau lembaga yang akan didudukinya.

Siapa Bahlil yang sesungguhnya? Dalam berbagai kesempatan ia merasakan kebanggaannya menjadi anak dari seorang ayah yang berprofesi sebagai kuli bangunan dan ibu sebagai tukang cuci. Dengan adanya keterbatasan tersebut, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh.

Namun itu tak pernah membuatnya minder, bahkan kerja kerasnya mengantarkannya kini menjadi jajaran pengusaha sukses di Tanah Air. Serba keterbatasan dalam hidupnya tak membuat pria yang besar di Papua ini berkecil hati.

Bahkan dalam memperjuangkan hidupnya, ia berusaha mandiri mulai sebagai sopir angkot hingga membuka aktivitas usaha lainnya.

Kemandiriannya itu terbukti ketika saat duduk di bangku sekolah dasar. Bahlil kecil pun sudah dapat ikut membantu perekonomian keluarga dengan menjajakan kue di sekolah.

Memasuki bangku SMP, ia juga sempat menjadi kondektur, di saat SMEA, ia menjadi sopir angkot secara part time. Walaupun begitu, Bahlil tetap menunjukan prestasinya di sekolah, bahkan ia pernah menjadi ketua OSIS.

Bermodalkan semangat, Bahlil berhasil daftar kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura, Papua. Semasa di bangku kuliah, ia dikenal sangat aktif menjadi pengurus senat mahasiswa hingga bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang membawanya menduduki posisi puncak sebagai Bendahara Umum PB HMI.

Pada 2003, namanya terdaftar di HIPMI tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pengurus pusat. Setelah memiliki berbagai pengalaman dalam organisasi dan memiliki pekerjaan bergaji tinggi, Bahlil memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mendirikan perusahaannya sendiri. Inilah awal mula kesuksesan pria asal Papua ini.

Dengan melihat begitu banyak sumber daya alam yang melimpah di tanah Papua, ia jadikan peluang untuk membuka usahanya. Kini ia memiliki 10 perusahaan di berbagai bidang di bawah bendera PT Rifa Capital sebagai holding company.

Pada 2015, kariernya sebagai pengusaha semakin lengkap saat Munas HIMPI yang mengantarkannya menjadi Ketua Umum HIPMI untuk periode 2015-2019.

Baca Juga

Pola pikir muda

Terkait munculnya nama tokoh muda dalam susunan Kabinet Kerja Jilid II, Direktur Penelitian Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menilai bahwa pola pikir anak muda, cocok dengan dinamika yang terjadi dalam dunia ekonomi sekarang ini, seperti perkembangan ekonomi digital.

"Sekarang ada pergeseran ekonomi digital yang gayanya beda dengan gaya pengusaha zaman dulu. Sementara anak muda lebih familiar dengan pola ekonomi digital," ujar Berly.

Berly menambahkan, salah satu pos kementerian yang dianggap cocok dipimpin oleh anak muda adalah Kementerian Koperasi dan UKM. "Pola entrepreneurship saat ini sudah beda. Kalau didorong dengan gaya masa lalu, koperasi dan UKM kita tidak akan maju," katanya.

Berly mengatakan, keterlibatan anak muda dalam kabinet sebuah negara bukanlah hal yang asing, seperti di Malaysia saat pemuda berusia 25 tahun dipercaya menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.

Meski demikian, dia juga mengatakan penunjukan menteri dari kalangan muda tetap harus mempertimbangkan beberapa faktor penting, seperti kompetensi, track record, serta integritas. "Kalau latar belakangnya mau dari pengusaha, bisa, dari parpol atau LSM juga bisa, tapi ya itu tadi harus punya kemampuan manajerial yang baik," jelasnya.

Pengamat politik Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta Andriadi Achmad mengatakan menteri-menteri yang ditunjuk harus bisa bekerja cepat dan profesional untuk mengejar perbaikan khususnya bidang ekonomi dan reformasi birokrasi.

Sebagaimana lazimnya setelah pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih, maka langkah berikutnya pengumuman dan pembentukan serta penyusunan kabinet. Titik poin paling dinantikan adalah penentuan dan pembacaan susunan kabinet oleh Presiden Jokowi.


sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA