Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Buaya Semakin Banyak Berkeliaran di Sungai Mentaya Kalteng

Kamis 24 Oct 2019 01:00 WIB

Red: Nur Aini

Buaya. Ilustrasi

Buaya. Ilustrasi

Foto: theconversation.com
Warga di Kotawaringin Timur diminta lebih waspada terhadap ancaman serangan buaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPIT -- Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang sering beraktivitas di Sungai Mentaya maupun tinggal di bantaran sungai itu diimbau untuk lebih waspada terhadap ancaman serang buaya.

Baca Juga

"Dari keterangan motoris kelotok dan warga yang ditemui di Desa Ganepo dan Dusun Belanti, buaya semakin banyak berkeliaran di perairan setempat. Bukan hanya malam hari, tapi siang hari pun buaya sering terlihat," kata Komandan Jaga BKSDA Pos Sampit Muriansyah di Sampit, Rabu (23/10).

Populasi buaya di Sungai Mentaya diperkirakan bertambah. Indikasinya adalah makin seringnya buaya muncul dan terlihat oleh warga yang sedang beraktivitas di sungai yang membelah Kota Sampit tersebut.

Kondisi itu menimbulkan risiko konflik antara buaya dan manusia, apalagi buaya makin sering muncul di perairan dekat permukiman. Buaya diduga kelaparan sehingga menyasar ke perairan permukiman untuk mencari makanan, di antaranya mengincar ternak milik warga seperti ayam, bebek, dan lainnya.

Sepanjang 2019 ini terjadi beberapa kali kejadian buaya menyambar manusia. Bahkan ada korban terputus tangannya akibat gigitan buaya, tetapi nyawanya terselamatkan.

Beberapa hari terakhir, masyarakat dihebohkan dengan beredarnya video bangkai seekor buaya berukuran cukup besar yang mengapung di Sungai Mentaya. BKSDA menindaklanjuti informasi itu dengan turun ke lapangan dan berhasil menemukan bangkai buaya tersebut.

Bangkai buaya tersangkut di pohon di pinggir sungai kawasan hulu Dusun Belanti Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Bangkai buaya itu kemudian ditarik ke lokasi yang aman agar tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat.

"Karena kondisi buaya membusuk sudah tidak memungkinkan untuk diangkat atau diseret ke darat, bangkai buaya tidak dikuburkan. Bangkai buaya ditarik ke daerah perairan yang sepi, jauh dari pemukiman dan ditempatkan di hutan tepi sungai, kemudian diikat kuat," ujar Muriansyah.

Tim BKSDA juga mendatangi perkampungan warga di Desa Ganepo Kecamatan Seranau yang menginformasikan seringnya kemunculan buaya di perairan setempat. Tim mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sungai agar tidak sampai menjadi korban serangan buaya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA