Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Menag Fachrul: Saya Pernah Aktif di Komando Masjid

Rabu 23 Okt 2019 17:14 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Menteri Agama Fachrul Razi menjawab pertanyaan wartawan usai serah terima jabatan (Sertijab) di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (23/10).

Menteri Agama Fachrul Razi menjawab pertanyaan wartawan usai serah terima jabatan (Sertijab) di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (23/10).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Menag Fachrul mengakui ia bukanlah kiai tamatan pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Presiden Joko Widodo mempercayakan jabatan Menteri Agama ke Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi.  Fachrul mengaku dipercaya menduduki posisi itu, meski bukan dari kalangan pesantren.

"Saya bukan bukan kiai tamatan pesantren. Tapi saya dibesarkan di lingkungan Islam yang ketat dan dididik ketat," kata Fachrul di kantor Kemenag Pusat, Jakarta, Rabu (23/10).

Menag yang baru menggantikan Lukman Hakim Saifuddin itu mengatakan, saat di Akademi Militer, ia aktif di kegiatan keagamaan Kelompok Komando Masjid. Melalui kelompok itu dia turut mendalami dan mengajarkan materi ke-Islaman serta literasi Alquran.

Setelah Akmil selesai, Fachrul mengatakan tetap melanjutkan dakwah di berbagai tempat seusai penugasan. Dia juga kerap mengisi khutbah Jumat.

"Meski penguasaan ayat tidak banyak tapi penting untuk membuat daerah itu damai dan toleransi tinggi. Agar bagaimana mereka mengutamakan persatuan dan kesatuan. Tema yang disampaikan Islam damai rahmatan lil'alamin mengutamakan persatuan dan kesatuan antiradikalisme, itu-itu saja," katanya.

Bahkan karena tergolong aktif di bidang keagamaan, dia sempat digolongkan sebagai perwira hijau sebagai rival perwira NKRI. Meski sebutan itu juga bias makna karena seolah hijau artinya tidak NKRI, sementara NKRI tidak hijau.

Akan tetapi, dia bersyukur era itu sudah lewat dan tidak ada lagi pengkotak-kotakan lagi. Kini semua harus dapat bersatu dalam keberagaman dan memerangi radikalisme.

"Jika ada radikalisme beragama berarti ada penafsiran yang salah dalam Alquran dan As Sunnah atau ditafsirkan pada sesuatu yang negatif," katanya

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA