Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Jargon 'Kerja, Kerja, Kerja' Disarankan Diganti

Kamis 24 Okt 2019 00:47 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Indira Rezkisari

Pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Pelantikan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10).

Pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Pelantikan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Publik butuh mendengar lebih sering detail dari gagasan kerja Presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Badan Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Fahira Idris mengungkapkan jargon Indonesia Maju perlu dirumuskan lebih dalam. Kabinet. Di periode kedua Joko Widodo membutuhkan sebuah gagasan dan narasi besar sebagai ruh penyemangat para menteri untuk bekerja.

Menurut Fahira, rakyat akan mendukung jika gagasan dan narasi yang disampaikan benar-benar menyentuh persoalan rakyat. Juga memiliki solusi cerdas untuk mengurainya, dan disampaikan dengan penuh optimisme. Oleh karena itu Fahira menyarankan jargon kerja, kerja, kerja diganti.

“Saya kira jargon ‘kerja kerja kerja’ harus diubah. Pak Jokowi harus lebih sering sampaikan apa gagasan besarnya menjadikan Indonesia lebih maju ke hadapan publik," ujar Fahira dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/10).

Fahira menilai jargon periode pertama yaitu kerja kerja kerja, rakyat jarang menyuguhkan gagasan besar presiden bagi negeri. Misalnya saja soal keadilan hukum, keadilan ekonomi, dan keadilan sosial.

Belum lagi isu-isu spesifik misalnya pemberantasan korupsi, soal lingkungan hidup dan irisan dengan pembangunan dan investasi serta soal HAM, dan isu lainnya.

"Gagasan dan narasi Jokowi juga sangat terbatas menanggapi isu-isu kekiniaan misalnya soal Papua. Akibatnya publik tidak sepenuhnya memahami apa yang hendak dilakukan pemerintah," tutur Fahira

Masih kata Fahira, rakyat harus mendengar gagasan Presiden yang akan memfokuskan pembangunan SDM sebagai jalan untuk Indonesia maju. Seperti apa narasi Presiden untuk menuntaskan masalah-masalah utama yang menghambat pembangunan SDM di negeri ini. Ia menilai perwujudan Indonesia Maju itu dimulai dari gagasan dan narasi baru kemudian kerja.

"Kerja tanpa gagasan dan narasi, akan membuat apa yang dikerjakan Presiden dan pembantunya kehilangan spirit dan hasilnya pun tidak akan signifikan," tegasnya.

Kemudian, sambung Fahira, selama keadilan hukum, ekonomi, dan sosial masih belum dirasakan, Indonesia Maju tidak akan pernah terwujud. Maka Presiden Jokowi perlu menyampaikan gagasan besarnya bagaimana agar keadilan hukum, ekonomi, dan sosial bisa dirasakan.

"Sehingga rakyat optimis lima tahun ke depan Indonesia benar-benar bisa maju," tutup Fahira.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA