Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Saturday, 28 Jumadil Akhir 1441 / 22 February 2020

Warga Keluhkan Banjir Akibat Proyek Kereta Cepat

Selasa 05 Nov 2019 05:05 WIB

Rep: Abdurrahman Rabbani/Antara/ Red: Bilal Ramadhan

Alat berat beraktivitas di pembangunan proyek Kereta cepat Jakarta-Bandung di Cibuntu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/9/2019).

Alat berat beraktivitas di pembangunan proyek Kereta cepat Jakarta-Bandung di Cibuntu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (19/9/2019).

Foto: Antara/Fakhri Hermansyah
Sumbatan tersebut memicu luapan air saat terjadi hujan dengan intensitas lebat.

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagian perumahan RW 12, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, terendam  akibat tersumbatnya saluran air, Jumat (1/11). Kondisi tersebut dikeluhkan warga sebab banjir diakibatkan proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Salah seorang warga RT 07, RW 12, Rakun (45), mengatakan, hujan yang terjadi pada Jumat sore menyebabkan kenaikan volume air di lingkungan RT 07, tetapi air tersebut tidak memasuki rumahnya. Ia mengatakan, jika tanggul tidak dibongkar oleh pihak kontraktor, air tersebut akan segera memasuki pekarangan rumah.

“Ini air di jalan depan sudah sampai ke mata kaki, tapi enggak masuk (rumah). Sebelumnya, enggak pernah sampai air naik gini, kita sudah siap-siap naikin karpet ke atas. Gara-gara pembangunan ini jadinya sebagian RT di sini kebanjiran,” kata Rakun kepada Republika, Senin (4/11).

Ia juga mengatakan, banyak warga di sekitar wilayah tersebut yang mengeluh ke kontraktor pembangunan proyek. Sebab, banjir yang merendam sebagian perumahan di RW 12, khususnya RT 07, RT 08, RT 09, dan RT 11, diakibatkan penyumbatan saluran air oleh proyek tersebut.

“Kemarin saya dengar itu warga RT 08 marah-marah, enggak terima rumahnya masuk air. Tapi, setelah selang beberapa jam, mereka (kontraktor) angkat tanggul saluran air, itu langsung surut, cepet banget,” tuturnya.

Sementara, salah seorang warga RT 08, Salim (65 tahun), menjelaskan, banjir yang terjadi pada Jumat malam merendam sebagian teras depan rumahnya. Sejak adanya pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, ini kali pertama banjir lagi setelah banjir terakhir pada 2002.

“Ini air banjir bukan air sungai yang biasa warna cokelat, ini air warna hitam, seperti air got, bawa sampah banyak,” kata Salim.

Menurut dia, ketinggian air di lingkungan RT 08 sekira 15 sampai dengan 20 sentimeter. Ia menjelaskan, naiknya volume air sekitar pukul 18.00 hingga 21.00, kemudian tanggul dibuka oleh pihak kontraktor pembangunan. “Nah, selang berapa menit, pas tanggul sudah dibuka, itu air cepet sekali surut,” ujar dia.

Warga RT 08 lainnya, Trijoko, yang rumahnya berdekatan dengan saluran air yang di tanggul dan bersebelahan dengan proyek pembangunan, mengalami banjir hingga ke dalam rumah. Ia juga menambahkan, banjir pada Jumat malam disebabkan proyek pembangunan.

“Itu sungai kan ketutup, ditutup pakai berangkal sebab ganggu pengerjaan kan, belum selesai pengerjaan sudah hujan, di sini sudah telanjur banjir,” kata Tri.

Selain itu, akibat rumahnya mengalami kebanjiran, ia juga mengalami beberapa kerugian. Banjir setinggi 50 sentimeter merencam dua sepeda motornya. “Mobil juga saya buru-buru keluarin dari garasi biar enggak masuk air,” ujar dia.

Terlihat bekas banjir di setiap dinding perumahan warga RT 08, RW 12. Batas banjir tersebut setinggi 50 sentimeter dan membentuk garis lurus dari sebuah tanah. Terdapat juga beberapa sampah plastik yang menyangkut di tangkai pohon depan rumah warga.

Wali Kota Jakarta Timur, M Anwar, meminta kontraktor Kereta Cepat Jakarta-Bandung untuk bertanggung jawab atas banjir yang melanda RW 12 Cipinang Melayu, Makasar. "Karena saluran air yang tidak maksimal, saya berharap segera diselesaikan pihak pelaksana," kata Anwar saat meninjau RW 12 Cipinang Melayu, Ahad (3/11).

Saluran air di wilayah itu sengaja disumbat kontraktor PT Wika sebab selama ini menghalangi jalur Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung sehingga dilakukan relokasi saluran. Akibat situasi itu, rumah warga di RT07, RT08, RT09, dan RT11 terendam air hujan dengan ketinggian bervariasi antara 20-50 sentimeter pada Jumat (1/11) malam.

Anwar menyebut, pengembang tidak serius melakukan pengerjaan proyek lintasan transportasi kereta di wilayah setempat. Anwar meminta agar saluran air warga menuju Kali Sunter segera dinormalisasi paling lambat Senin (4/11) karena banyak terdapat tumpukan tanah.

Sumbatan tersebut memicu luapan air saat terjadi hujan dengan intensitas lebat. Anwar menegaskan kepada pengembang untuk selalu mengantisipasi dampak negatif dari pembangunan lintasan kereta. "Saya berharap secepat mungkin harus dinormalisasi kali ini, jangan ada warga yang dirugikan," ujar dia.

Camat Makasar, Kamal Alatas, mengatakan, kontraktor proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PT Wika, telah menjalin kesepakatan dengan warga RW 12, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, akan segera menyelesaikan masalah banjir akibat proyek. Hasil dari kesepakatan tersebut, PT Wika sedang mengupayakan pemulihan infrastruktur penanggulangan banjir.

“Kemarin Sabtu (2/11) kita adakan pertemuan dengan kontraktor PT Wika untuk permasalahan banjir. Dari pihaknya sedang mengupayakan pemulihan infrastruktur untuk penanggulangan banjir,” kata Kamal, Senin.

PT Wika akan melakukan pembuatan kembali pintu air di tiga titik yang dulu sudah ada sebagai saluran pembuangan air. Jika hal tersebut masih belum cukup untuk mengatasi banjir, warga akan membuat pintu air lebih untuk antisipasi genangan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA