Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Iran Suntikkan Gas Uranium di Fasilitas Nuklir

Rabu 06 Nov 2019 02:03 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

    Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran.

Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran.

Foto: Sot Akbar/ISNA/AP
Iran mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas nuklir Fordow.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan mulai menyuntikkan gas uranium ke sentrifugal di fasilitas nuklir Fordow, Selasa (5/11). Hal itu merupakan langkah lanjutan Teheran dalam menanggalkan komitmennya di kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). 

Baca Juga

Dilaporkan laman Aljazirah, dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Rouhani mengungkapkan sebanyak 1.044 mesin pabrik akan disuntikkan dengan gas uranium pada Rabu (6/11). Pada Senin lalu, Iran mengumumkan telah menggandakan jumlah sentrifugal IR-6 canggih yang kini beroperasi. 

Penggandaan jumlah sentrifugal adalah langkah lain Iran dalam mengabaikan JCPOA. Belum ada komentar dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) perihal pengumumkan terbaru Iran terkait aktivitas nuklirnya. 

Sebelumnya, IAEA telah melaporkan bahwa Iran mulai menginstalasi mesin sentrifugal termutakhir untuk melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya. Akvitas pengayaan uranium mulai dilakukan Teheran sejak Juli lalu. 

Seorang juru bicara IAEA mengungkapkan Iran telah menginformasikan bahwa mereka membuat modifikasi untuk mengakomodasi kaskade atau klaster yang saling berhubungan, dari sentrifugal 164 IR2m dan IR-4. “Semua sentrifugal yang dipasang telah disiapkan untuk pengujian dengan UF6, meskipun tidak satu pun dari mereka yang diuji dengan UF6 pada 7 dan 8 September,” kata dia, merujuk pada bahan baku uranium hexafluoride untuk sentrifugal. 

Ia menambahkan Iran telah menyampaikan kepada IAEA bahwa mereka akan memodifikasi jalur sentrifugal penelitian sehingga uranium yang diperkaya diproduksi. Hal itu sebenarnya tak diizinkan di bawah JCPOA.

JCPOA juga hanya memungkinkan Iran memproduksi uranium yang diperkaya dengan lebih dari 5.000 mesin sentrifugal IR-1 generasi pertama. Artinya, pemasangan mesin sentrifugal terbaru telah melanggar ketentuan kesepakatan tersebut.

Pada Juli lalu, Iran mengumumkan telah melakukan pengayaan uranium melampaui ketentuan yang ditetapkan JCPOA, yakni sebesar 3,67 persen. Teheran mengklaim saat ini pengayaan uraniumnya telah mencapai lebih dari 4,5 persen.

Iran mengatakan level pengayaan itu memang masih sangat jauh dari yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir. Namun, ia siap melanjutkan aktivitas pengayaan uraniumnya jika perekonomiannya masih dijerat sanksi AS. 

AS diketahui telah hengkang dari JCPOA pada Mei 2018. Setelah keluar, Presiden AS  Donald Trump memutuskan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Mundurnya AS membuat JCPOA goyah dan terancam bubar. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA