Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Sekolah Ambruk Lagi dan Terus Makan Korban

Rabu 06 Nov 2019 08:13 WIB

Red: Budi Raharjo

Anggota tim labfor Polda Jatim melakukan olah TKP kelas yang ambruk di Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019).

Anggota tim labfor Polda Jatim melakukan olah TKP kelas yang ambruk di Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019).

Foto: Antara/Umarul Faruq
Peristiwa robohnya sekolah merupakan yang ketiga kalinya sebulan belakangan.

REPUBLIKA.CO.ID, PASURUAN -- Sejumlah kelas di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gentong di Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, ambruk pada Selasa (5/11). Dua orang meninggal dunia dan belasan lainnya terluka akibat kejadian itu.

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 08.15 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasuruan melansir, robohnya atap sekolah itu bermula dari kelas-kelas yang terletak di bagian depan sekolah. Di antaranya kelas II-A, kelas II-B, kelas V-A, dan ke las V-B. Kelas II-A dan II-B dipenuhi murid saat itu. Sementara, kebanyakan siswa kelas V tengah mengikuti mata pelajaran olahraga.

Kepolisian mencatat, ambruknya bangunan sekolah dasar itu mengakibatkan 13 orang menjadi korban. Perinciannya, dua orang korban meninggal dan sisanya luka-luka. Dua korban tewas terdiri atas satu siswa dan satu guru. Sementara, 11 korban luka-luka merupakan siswa sekolah tersebut.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menyatakan, murid yang meninggal dunia adalah IA (8) warga Gentong, Kota Pasuruan. Sementara, korban meninggal dunia lainnya ialah Silvina Asri (19) yang merupakan guru pengganti di sekolah itu. "Nah, ini meninggal dikarenakan terkena bangunan itu, jelas karena ambruk dari atas," kata Barung, kemarin.

Barung Mangera juga menyatakan, pihaknya telah menurunkan tim dari Polda Jatim untuk mengidentifikasi sebab ambruknya SDN Gentong. Tim laboratorium forensik dikirim untuk memeriksa konstruksi bangunan. "Polda Jawa Timur sudah memanggil laboratorium forensik, kita sudah berangkat menuju ke Pasuruan Kota guna memeriksa konstruksi dan memeriksa keseluruhan bangunan. Itu (bangunan) dikerjakan tahun 2017," ujar Barung.

Barung menyampaikan, berdasarkan pemeriksaan sementara, atap yang ambruk dan menimpa belasan siswa serta seorang guru tersebut diduga konstruksi atapnya tidak sesuai prosedur. Ia mengaku, mendapat informasi bahwa pada bagian atas bangunan, genting hanya dilapisi dengan seng. "Nanti akan diputuskan setelah hasil yang namanya scientific identification, kita bekerja," ujar Barung.

Ia menegaskan, polisi akan memeriksa saksi dari pihak terkait, termasuk kontraktor dan Kepala Dinas Pendidikan Kota Pasuruan. "Itu pasti (hubungan dengan kontrak tor), tetapi tunggu identifikasi ya, (pemanggilan kepala dinas) nanti itu," kata Barung.

Barung menyatakan, kasus ini ditangani bersama antara Polresta Pasuruan dan Polda Jatim. Ia memastikan, kasus ini mendapat atensi khusus karena ada korban jiwa. "Kita ambil alih ini, bersama Polres Pasuruan Kota. Kita akan update terus ini," ujar dia.

Baca Juga

photo
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menjenguk korban yang terluka akibat atap Sekolah Dasar (SD) Negeri Gentong yang ambruk di RSUD R Soedarsono, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019).


Seorang saksi yang merupakan orang tua siswa, Iwan Dayat (35), menuturkan, kejadian kemarin didahului pada ruangan sebelah kanan dan atap kelas II-B. "Terus kerobohannya merambat sampai kelas V- A," kata dia, Selasa (5/11).

Menurut Iwan, sebagian siswa kelas V-A dan V-B saat kejadian masih mengikuti kegiatan olahraga di luar kelas. Oleh sebab itu, hanya ada beberapa siswa yang tengah berada di dalam kelas. Sementara, seluruh siswa di kelas II-A dan II-B saat itu sedang melakukan kegiatan belajar mengajar.

"Yang korban salah satu di kelas II-B yang meninggal dunia dan yang guru di kelas V-A," ujar Iwan. Adapun kondisi anaknya, Iwan menuturkan, hanya mengalami luka ringan. Ia mensyukuri hal tersebut meski sang anak hingga semalam masih dirawat di RSUD dr Soedarsono. "Dan, temannya ada yang luka parah tertimpa seng dan galvalum," ujar dia.

Peristiwa ambruknya ruang kelas bukan kali ini saja terjadi di Indonesia. Sebulan lalu, tepatnya pada 1 Oktober, dua ruang kelas SDN Plumbon, Kabupaten Cirebon, pun mengalami hal serupa. Peristiwa itu menyebabkan puluhan siswa dan dua orang guru terluka akibat tertimpa reruntuhan material bangunan, terutama kayu. Saat itu, kondisi rangka kayu bagian atap yang lapuk roboh ditiup angin kencang.

Sekitar dua pekan lalu, pada 23 Oktober, tiga ruang kelas SDN 02 Cijolang di Kabupaten Garut juga ambruk menyusul kondisi bangunan yang sudah rusak. Tak ada korban dalam kejadian pada sore hari itu.

Kemendikbud mencatat, dari 1,7 juta ruangan kelas SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB di Indonesia, sekitar 69 persen di antaranya dalam kondisi rusak. Pemerintah sejak tahun ini telah mengalihkan upaya rehabilitasi sekolah dari Kemendikbud ke Kementerian PUPR. (dadang kurnia/wilda fizriyani/antara, ed:fitriyan zamzami)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA